Atas Nama Cinta
Langit begitu pekat, udara bersemayam pada jiwa pencari hakikat,
Sinar menjulang ke langit merobohkan mindset ketidakpedulian,
Intensitas di pertaruhkan demi istiqomahnya pamor dan ranking kedudukan,
Para kaum diam dan bisu sedang berada di balik tirai doa dan airmata,
Para speakers sedang berlomba-lomba menaiki tangga untuk strata dengan satelit angkasa,
Sekarang dunia hanya ada dua rasa,
Puja dan lara,
Memuja dengan sebaik-baik ucapan,
Menyayat lara dengan seburuk-buruk tindakan,
Namun, masih ada.
Satu rasa yang tertinggal,
Ia memilih kedudukan di balik pijar lampu jalanan,
Berdiam bak patung tanpa harga dan pantas dihina.
Seperti menghilangkan hawa keberadaan,
Ia bukan acuh dengan segala apa,
Hanya lelah telah menguras daya dan upaya,
Hanya getir pahit kopi yang ternyata menyimpan duri.
Atas nama cinta,
Segala rasa yang tumpah,
Segala senyum merekah,
Dan keringat bercampur darah,
Atas nama cinta,
Berkorban demi sebuah rasa,
Kanan dan kiri lajur utama,
Kobaran api melumas segala.
Atas nama cinta,
Aku cinta engkau,
Tak usah tanyakan tentang apa,
Segala rasa telah tercipta,
Atas nama cinta,
Kita menjadi satu,
Jangan terpisah sudut pandang semu,
Tautan hati terpatri merobek ego dan emosi.
Atas nama cinta,
Aku dan engkau ada,
Meski tak lagi di dunia,
Dan langit yang mengitari samudra.
Komentar
Posting Komentar