Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2017

Horizontal atau Vertikal

Gambar
Engkau menghilang, Tatap ku kosong beradu pada awan, Rupa segala daya ku hapuskan meski bayang tak pernah hilang dari pandang Memeluk bayangmu bahwa kerinduan bukan hak ku tapi tetap saja itu aku. Menatap seribu detik purnama berganti kau masih saja di hati. Entah apa sejatinya komunikasi yang di sebut sebagai kedamaian, Aku membuang muka jauh untuk yang selalu datang, Aku mempertahankan penuh untuk yang selalu menghilang. Maafkan, inikah hubungan sakral. Dimana aku menghubungimu dengan sujud dan do'a. Inikah kedamaian, saat tak ada tuntutan mengikhlaskanmu pergi dan tanpa kabar. Atau inikah rupawan, Mampu memikat hati tanpa ada kata buai dan belai. Inikah engkau, Mampu menali hati membuat kedamaian dengan cara yang anti mainstream. Inikah jalan vertikal yang engkau pilih Menitipkan cintamu pada sang Pemilik rasa membiarkanku merana pada bisik bumi agar sampai ke semesta. Inikah? Maka, harus dengan apa aku tersenyum dalam tangis airmata. Karena segalamu ku hormat...

Simpuh, Tuan

Gambar
Tuan, Adzan sudah berkumandang Dari muadzin surau nan tampan, Bolehkah kita segera tumandang, Sholat berjamaah dua puluh tujuh tingkatan Tuan, Sajadah panjang sudah ku gelar Maukah aku yang iqomahkan Atau tak mampuku tuk memandang Banyak kekuranganku semoga engkau mau menyempurnakan Tuan, Ijinkan aku salim setelah salam Untuk melebur segala dosa yang pernah terluka Atau lara yang belum padam Untuk senyuman yang akan mengembang Tuan, Hadiahi aku alfatihah kesempurnaan Untuk memperbaiki imanku yang kian memudar Mendapati jalan terjal tak pernah rentan Membentengi diri dari apapun yang ingin merobohkan Tuan, Berikan hakku atas makmummu Akan ku hormati engkau sebagai imamku Retakan kaca jangan pernah ada Atau sayatan nestapa siap menjadi cerita Tuan, Lukaku masih basah Basuh basahi aku siram dan faham Seperti derai air bertemu lautan Engkau damai dan menyejukkan Tuan, Isya' akan seger datang Jemput aku kembali dari paraduan Ku kayuh sepeda menung...

Kopi

Gambar
Kopiku sudah matang, Beranjak dari seduhan, Untuk tuan sebagai minuman, Silahkan cicipi selagi hangat senyuman. Kopiku tak pahit, Tak pula manis ucapan, Kopiku ingin engkau berkenan, Menikmatinya tanpa harus berbayar. Maaf, meski Kopiku berampas, Tak usah kau berhempas, Akan ku ganti sebelum kau rampas, Untuk sekedar tau kau pertarung yang buas. Aku tak menyediakan teh dan lainnya, Aku hanya punya kopi, Meski hina tapi aku bangga, Setidaknya punyaku tidak membabi buta. Terserah mau kau remix dengan apa, Kopiku tetap kopi. Hitam pekat tak punya celah tak punya titik, Ia tak bersandiwara, unt menciptakan konflik. Kopiku hanya secangkir, Namun, tetap saja kau masih berfikir, Sampai malam telah tergelincir, Kopiku masih setia  tanpa getir. Tunggu dulu, jangan buru-buru, Beranjak pergi tanpa senyuman kau bayarkan, Unt hamba selagi masih ada, Sebagai kedamaian meski tanpa rupa.

Kata Kita

Gambar
Mengukir kata, Menjadi kita. Melebur keakuanku dan keegoanmu, Menjadi kita, Menyatukan pandanganku dan asamu, Menjadi kita. Menyusun deretan tangga hidup, Menjadi milik kita. Mengukir rasa kehidupan, Menjadi cerita kita. Maukah engkau, Menjadi imamku, Menunjukkan jalanku, Menuju JannahNya. Maukah engkau, Mendampingiku, Di saat dunia tidak berpihak yang lemah, Di saat air dan api bertarung memperebutkan jajaran adikuasa. Mampukah aku, Menjadi Khadijahmu, Saat semua gemerlap dunia harus ku tinggalkan, Saat petuahmu adalah yang utama. Mampukah kita, Membangun singgasana, Bukan hanya di dunia, Tapi pula di surga. Maka, ijinkanlah aku. Menjadi makmummu, Unt setiap sholat maktubah, Unt semua petuah, Unt menjadi yang sholihah. Maafkan semua laku, Yang tak berkenan di hati indahmu, Aku hanya tulang rapuh, Tak bisa di keras pula di halus. Wahai Kawan surgaku, Ku buang semua perangai burukku, Demi senyumanmu nan abadi, Demi apapun yang engkau mau, Demi masa...

Njenengan

Gambar
Bolehkah kata keindahan ananda tuliskan dengan deretan abjad mesra ini. Bahwa muara itu terpancar tak jauh dari tatap mata menyimpan ribuan asa dan rasa, Saat senja bertemu senja bertamu dalam keabadian rasa memeluk mesra jiwa. Saat ananda mengikuti langkah kaki ringanmu mengabdi menjadi makmum pondasi agamamu. Maka, Jadikan aku pengikut setia mu dan jangan lagi menoleh kemanapun engkau mau, Agar semesta pun tahu ada Njenengan di setiap jengkal kelopak mata mengatup pasangan menggetar jiwa. Meskipun, Tetap saja keindahan yang ada di hati tak bisa tergambar gampang setara dengan apa yang ada di hati. Tapi, mampukah ananda memendam sendiri dalam detik jarum jam menggema, Bersama dengan kerinduan yang kian bersemi, Adalah Njenengan yang selalu menghiasi. Entah dengan ukiran apa jangan tanya ananda tersenyum di setiap sudut jam berbunyi. Ada Njenengan yang tak pernah lelah merestui, Setiap langkah menuju singgasana surga menggenggam jemari mahligai halal dalam silaturrahim. Mas...

At-Madja

Gambar
Dari lembah pegunungan nan asri itu, Semua hidup guyub rukun permai budi, Senyum mengembang tanpa mengenal jarak dan sesiapa, Penuh rangkul tanggung jawab menggenggam rasa haru biru bahagia, Lahan luas yang dulu tak pernah terjamah, Kini kian rapi tanpa ilalang meliputi. Segerombolan pemuda mengatasnamakan lembaga merintis paguyuban dari rumah ke rumah, Merelakan separuh lebih waktu memajukan desa tanpa pandang bulu. Meski bukan wilayah agamis, Budaya dan agama sangat di junjung tinggi. Inilah negeri tanpa polusi, Nyawiji agami lan kabudayan sebagai kata penuh makna, Tak ada kebisingan ego dan modernitas mengelabui. Jangan berani melempar tangan menikam baja memercikan darah pada keluarga kami, Kalau tak ingin satu desa menghampiri. Meski bukan saudara kandung, tapi kesolidan dan rasa memiliki melebihi ikatan batin satu darah. Mengabdi dua puluh empat jam kami tempuh, Demi kemaslahatan ummat yang penuh dan patuh. Tiada kata yang pantas tergambar mewakili keindahan, K...