Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2018

Restu Semesta

Gambar
Senja menyibakku dalam lamunan, Menghantar rindu berbalut senyuman, Menuntunku menuju halal, Membasuh semu semai pelaminan, Meski ucap tak pernah menghantarkan kedamaian, Sorot matamu menjawab semua tanda tanya keraguan, puisi ini terhenti pada kata keraguan, dan terbengkalai pada hari-hari kelam menjamu airmata tak berkesudahan. pada istikhorokh penuntun jalan kebenaran, akan cinta yang mana berhak dipilihkan, atau memilih mesti semesta tak memilih. dan.. ternyata sudah dicukupkan. mungkin semesta punya rahasia, yang tak bisa di sibak oleh cahaya yang mana. juang sudah pada puncaknya.  mungkin bisa di bilang puisi ini tak bisa seluruhnya meluapkan isi hati penulis, namun denganberaninya di upload dengan materi yang masih mentah. namun ada sesuatuu yang mungkin saja bisa di bagi, lalu aku membaginya. selamat membaca.

Hujan

Gambar
Aku rindu, Hujan kala itu Dulu ia selalu hadir setiap kedip mata Membasahi bedak dan pipi yang merah Membuat sembab kedua kelopak mata Tersedak isak menyibak gelap Saat raga terpenjara Di antara jurang bahagia lagi nestapa Aku rindu, Hujan kala itu Kau pegang jemariku erat Seakan kau takut aku terjatuh dari sepatu jinjit dua senti Pelukan tak pernah kau lepas Atau mata yang selalu memandangku dalam tak berkedip penuh makna. Aku rindu, Hujan kala itu, Aku di punggungmu dalam laju, Sepeta motor bebek putih kau pacu Dalam satu angan satu tuju. Aku rindu, Hujan kala itu. Di bawah pohon beranting jarang Duduk bersila menunggu pelangi dari arah mana Baju basah tak pantas Namun tetap saja kau berusaha memeras. Apa kau tau? Aku rindu, Hujan kala itu. inginku robek sekat antara ruang dan waktu untuk menggenggam cerita bersamamu.