Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2017

Perempuanmu

Gambar
Aku, Mencoba menjadi sebagian dari diriku, Karena sebagian yang lain akan kau isi, Petuah dan kehangatan ku anggukan dengan penuh santun, Meski, Aku bukan intan yang berhak kau perjuangkan, Tapi segala daya ku korbankan demi sebuah restu darimu, Engkau bukan segala, Tapi segalaku adalah kamu, Karena, Engkau jawaban dari istikhorokhku, Tak usah dengan janji melangit, Tak perlu harga untuk menyilaukan, Harta berhargaku adalah kamu, Tak enggan seribu jam penantian, Tak risau kalimat yg kurang sempurna untuk kata pujangga, Apa adanya engkau adalah kesempurnaan, Engkau sedang di ketinggian jabatan, Atau berada dalam jurang reruntuhan, Aku ada. Selalu. Tanamkan semua rasamu, meski itu gelisah dan amarah, Kepadaku, untuk paraduanmu. Karena aku perempuanmu. Tak usah kau risau, Dengan teman "emansipasi wanita" yang membooming ini, Atau kepemilikan hak di atas kata setara Aku masih di bawah lenganmu untuk semua laku, Aku masih dibawah kakimu untuk segala rest...

Lima Waktu

Gambar
Lihatlah, Disana, Terdapat rumah yang kokoh, Lima tiang sebagai pondasi, Megah dengan ornamen emas yang berlafadz Arabi, Sebagai pintu masuk dan keluar hari, Bersahut undangan dari surau menyejukkan hati, Bermula dari fajar shodiq, Berjalan menuju matahari tepat berada di atas kepala, Lalu sebelum senja terbenam, Disaat senja terbenam, Dan mega senja mulai menghilang. Hanya Lima dari dua puluh empat jam jarum jam yang diminta, Ditambah dengan kesunahan yang ikhlas menjalankan. Namun disana, Dari sudut yang lain, Tampak rumah megah dengan ornamen emas, Tetap kokoh berdiri dengan penyangga yang kian runtuh, Mengelupas dengan kesombongan waktu yang dibuang dengan cuma, Lima waktu demi dua puluh empat jam dibuang demi harta dunia, Di dalamnya masih terdengar sahutan senyuman para punggawa, Berpeci dan berkrudung, Mengucap dzikir penyejuk kalbu, Namun ia melupakan lima waktu, Jangan runtuh, jangan lusuh, Kau tak kan kuat menanggung derita meninggalkan, Makan tak en...

Sang Mujahid

Gambar
Sorak sorai dari pojokan jalanan, Membuat riuh kota yang penuh kesederhanaan, Anak kecil tanpa bapa masih mampu tersenyum tanpa guratan senja Setelah kebahagiaannya terenggut di ufuk saluna. Menjadi sebagian dari para pejuang negeri, Memerangi ideologi, keserakahan, dan keangkuhan penguasa kini, Mereka lalu meminta asi, kesurga yang mereka huni, Merengek kesana kemari, Seribu bahasa dengan ejaan tangisan yang mampu kami tafsirkan, "ibu, anakmu lapar, ibu.. " Menghampiri sesosok jasad yang telah kaku, Karena benda yang teramat keji merenggut nyawa, Lautan merah kental menghiasi pusara ibunda, Namun, anakmu masih ingin mendekapmu, Merangkak dengan kaki dan tangan, bermuka kusam dengan seribu makna, tanpa ejaan kata yang dimengerti manusia, "jangan pergi tanpa aku, ibundaa" Namun engkau tetap enggan, Membawaku dalam dekapan, Kami hanya mampu berlinang kaca, Dan bisu seribu makna, Selamat jalan mujahid ideologi kaum mayoritas, Kami selalu mendoakan ...

Sangkar Kerinduan

Gambar
Terbanglah, Merpati putih nan berseri Bebaskan dirimu dari belenggu hati Menggapai mimpi, cita dan (mungkin) cinta (yang baru) Menembus awan menggapai mahligai keindahan Pancar sinar mentari menuju senja, Lalu kisahkan kepada kawan, Tentang cerita kehidupan, Guratan senja mengukir sendu Kembang rekah senyum pancaran mentari menangkis elok gerimis kala itu, Bergeming dengan nada tak pasti Bawa bekal, kecup tangan sebagai ridho engkau mengembara Lalu kembalilah setelah senja tiba Kepada Sangkar, Kepada kebahagiaan, Ia telah rusuh nan kumuh, Tersapu persaingan strata sosial dan perdebatan identitas dan ras Kembalilah ke sana, Penantian seribu menit dan airmata keresahan menyapa, Untuk keluarga yang terucap dalam doa, Salam damai dalam menuntut ilmu dan mengais rizki unt singgasana surga. Semoga lindungan Allah selalu mendekap dalam jiwa. Kami menanti engkau kembali.

Tanda Tanya

Gambar
Langkahku terhenti, Pada derai hujan yang turun di pipi Semangat yang sedang membara, Bersamaan dengan hati yang sedang terluka, Aku bisa apa, Engkau mentari yang mengiringi mendungku, Engkau keindahan di setiap gelisahku, Engkau langit sedang aku debu yang berterbangan terbawa hilir angin, Jangan raih tanganku, Jika hanya untuk kau hempaskan, Banjir rumahku telah surut, Figura hatiku telah patah Kaki ku tak lagi tegak menginjak, Duri seakan melintang sepanjang jalan, Kemana kaki ini bermuara, Jika hanya darah dan airmata yang ada, Puncak kerinduan ku tak sepadan, Karena terhalang lalu lalang para pemuja paras rupawan, Pergilah jika kau ingin, Ku ikhlaskan tanpa bergeming. Tanda tanyaku tak usah kau jawab. Aku berdiri untuk tegar mendekap

Permata yang Hilang

Gambar
Terengah-engah di kerumunan lalu lalang pemuda pemudi Terhempas jauh ke dasar samudra kegalauan Suasana hampa di ribuan pijar lampu senja kota Jarum jam menunjukkan akan tibanya waktu buka puasa Mereka, bercita-cita menghentikan waktu agar tidak melebihi batas yang telah di sepakati bersama Di atas aspal ditemani polusi, pekat, dan iring-iringan kendaraan, Tanpa sekat namun tetap saja tak bisa gerak Gedung pencakar langit itu tersenyum getir memandangku yang lusuh lagi bau Kurang lebih setengah lima waktu saluna aku meninggalkan keluarga Kini aku ingin lagi memeluknya Tak henti telepon genggam berdering tanda aku sudah di nanti, Namun ketika aku sampai makanan sudah basi, Anak-anakku sudah lelap, istriku sudah letih tak berdaya, Roda tak ingin berputar sepertinya, Setidaknya 24 jam bersama mereka, Apa di kata, rekah senyum dari mereka yang ku perjuangkan, Demi sesuap nasi dan secuil strata di atas rata-rata, Meski dengan dahaga tanpa rupa, Permataku tetaplah tinggal, ...