Permata yang Hilang
Terengah-engah di kerumunan lalu lalang pemuda pemudi
Terhempas jauh ke dasar samudra kegalauan
Suasana hampa di ribuan pijar lampu senja kota
Jarum jam menunjukkan akan tibanya waktu buka puasa
Mereka, bercita-cita menghentikan waktu agar tidak melebihi batas yang telah di sepakati bersama
Di atas aspal ditemani polusi, pekat, dan iring-iringan kendaraan,
Tanpa sekat namun tetap saja tak bisa gerak
Gedung pencakar langit itu tersenyum getir memandangku yang lusuh lagi bau
Kurang lebih setengah lima waktu saluna aku meninggalkan keluarga
Kini aku ingin lagi memeluknya
Tak henti telepon genggam berdering tanda aku sudah di nanti,
Namun ketika aku sampai makanan sudah basi,
Anak-anakku sudah lelap, istriku sudah letih tak berdaya,
Roda tak ingin berputar sepertinya,
Setidaknya 24 jam bersama mereka,
Apa di kata, rekah senyum dari mereka yang ku perjuangkan,
Demi sesuap nasi dan secuil strata di atas rata-rata,
Meski dengan dahaga tanpa rupa,
Permataku tetaplah tinggal,
Ku perjuangkan engkau sampai titik darah penghabisan
Komentar
Posting Komentar