Perempuanmu

Aku,
Mencoba menjadi sebagian dari diriku,
Karena sebagian yang lain akan kau isi,
Petuah dan kehangatan ku anggukan dengan penuh santun,
Meski,
Aku bukan intan yang berhak kau perjuangkan,
Tapi segala daya ku korbankan demi sebuah restu darimu,
Engkau bukan segala,
Tapi segalaku adalah kamu,
Karena,
Engkau jawaban dari istikhorokhku,
Tak usah dengan janji melangit,
Tak perlu harga untuk menyilaukan,
Harta berhargaku adalah kamu,
Tak enggan seribu jam penantian,
Tak risau kalimat yg kurang sempurna untuk kata pujangga,
Apa adanya engkau adalah kesempurnaan,
Engkau sedang di ketinggian jabatan,
Atau berada dalam jurang reruntuhan,
Aku ada. Selalu.
Tanamkan semua rasamu, meski itu gelisah dan amarah,
Kepadaku, untuk paraduanmu.
Karena aku perempuanmu.

Tak usah kau risau,
Dengan teman "emansipasi wanita" yang membooming ini,
Atau kepemilikan hak di atas kata setara
Aku masih di bawah lenganmu untuk semua laku,
Aku masih dibawah kakimu untuk segala restu,
Karena aku jannahmu.

Melangkahlah,
Terbang tinggi di angkasa,
Tak usah kau pedulikan aku disini pun bahagia,
Ku panjatkan segala harap dan doa,
Untuk segala cita nan indah diangkasa.

Ku jaga hati ku pegang percaya,
Untuk hati yang takkan mungkin terpisah,
Jangan lengah untuk kata rindu,
Apalagi dengan rengekan setiap detik ku mengadu.

Sangkar kerinduan masih tetap terbuka,
Kembalilah jika kau berkenan mengetuknya.
Aku mengunci diri untuk yang menghampiri,
Ku mohon engkau memberikan hatiku kepada dara yang ingin mendekati.

Karena Aku,
Perempuanmu,
Bukan seorang ratu dari istana yang indah bahkan dari sejengkal kuku ekpektasimu,
Bukan sumber keindahan dan pusat perhatian bahkan bukan pula sang idola,
Aku mundur jika engkau membandingkan rupa, nilai, dan strata,
Aku maju jika engkau memilihku dari apa adanya.

Aku hanya tuna wicara dengan segala doa,
Jangan harap aku seperti dara muda berparas kilauan mustika,
Silahkan pilih mana yang engkau suka,
Saat engkau mendekat atau mereka mendekap.
Aku hanya pilu berpayung hujam,
Saat hujan tak henti mengalir di bawah pelupuk netra.

Aku perempuanmu dengan seribu keterbatasan,
Namun aku tetap memilihmu sebagai imam dengan rasa yang telah purna dari kesempurnaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sang Mujahid

Selamat Ulang Tahun Pujaan

Simpuh, Tuan