Dahaga Para Pekerja
Langkah kaki yang tak beriringan dan tak senada sama, Menghiasi subuh kota penuh pekerja, Penghuni ibukota dan segala dahaga berpenghasilan tetap mulai menata, Tak semua sejajar seperti ekspektasi sebagian pihak, Dipundaknya tergantung beban kerja dan kehidupan bak kerajaan, Namun sebanding dengan hidupnya yang sering banting tulang, Anak yang entah kemana, ibunda yang bekerja lebih dari kadarnya, ayahanda yang tidur dan bangun tanpa diketahui pastinya, Berjalan hari demi hari dengan senyuman, kadang dengan tangis yang berbading lurus dengan dahaga yang terbayar, pijar lampu entah itu gemerlap malam atau teriknya matahari, menyelimuti berangkat kepulangan sang pencari rizki, angin masih saja sejuk meski banyak polusi, Raga masih kuat meski tak banyak memakan suapan nasi, Tetaplah tersenyum untuk kuasa Tuhan yang selalu memberkati.