Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2017

Dahaga Para Pekerja

Gambar
Langkah kaki yang tak beriringan dan tak senada sama, Menghiasi subuh kota penuh pekerja, Penghuni ibukota dan segala dahaga berpenghasilan tetap mulai menata, Tak semua sejajar seperti ekspektasi sebagian pihak, Dipundaknya tergantung beban kerja dan kehidupan bak kerajaan, Namun sebanding dengan hidupnya yang sering banting tulang, Anak yang entah kemana, ibunda yang bekerja lebih dari kadarnya, ayahanda yang tidur dan bangun tanpa diketahui pastinya, Berjalan hari demi hari dengan senyuman, kadang dengan tangis yang berbading lurus dengan dahaga yang terbayar, pijar lampu entah itu gemerlap malam atau teriknya matahari, menyelimuti berangkat kepulangan sang pencari rizki, angin masih saja sejuk meski banyak polusi, Raga masih kuat meski tak banyak memakan suapan nasi, Tetaplah tersenyum untuk kuasa Tuhan yang selalu memberkati.

Terbanglah Para Ghurobaa'

Gambar
Riuh suasana pedesaan, Bak pasar yang berada sepanjang musiman, Burung-burung terbang bersamaan, Kicaunya terdengar bersahutan, Ada lagi pedagang lalu lalang, Menawarkan jajanannya bermacam-macam, Mereka, berjalan seiringan, Bergandeng tangan, berirama senada, Langkahnya membunuh setiap kedengkian yang ada di titik poros hati, Mereka menampikkan perbedaan, mengutamakan persaudaraan, Tidak dengan mereka yang berbeda pakaian, Tidak juga dengan yang memuja kitab yang berbeda. Pohon yang tinggi menjulang mereka menyebutnya teduh, Pijar Lampu yang berada di pinggir jalan mereka menyebutnya keindahan, Ada yang menolak makanan dengan alasan sunnah, Ada yang menghormati dengan sopan mereka menyebutnya kesatuan, Karena mereka Indonesia, Kebhineka tunggal ika yang mereka junjung tinggi, Hal yang kecil tetap saja tak kasat mata, Hal yang besar membuat mereka mengerti arti lumrah, Maka, wajar saja jika ada yang terbang tinggi menjulang, sendirian! Sebagai pelengkap dan bumbu k...

Idola

Gambar
Seorang tuna wicara, sedang memandang lalu lalang jalan raya, Menengadah kedua tangan ke langit angkasa, Berharap untuk apa yang di puja, Untuk seorang yang dipeluk mesra, Pujaan hati yang selalu di puja banyak kaum hawa, Disana, masih ada yang menunggu tanpa lelah, Namun masih saja diam tak berkata, Ia hanya ingin di mengerti tanpa perlu banyak berbicara, Ia hanya ingin dihampiri tanpa ingin mengemis airmata, Mungkinkah strata sosial telah menjadi musuh utama pertemuan insan, Atau kelancangan pengemis yang mendamba pujaan istimewa, Kau idola, sedang aku hanya tuna wicara, Akankah bersatu menjadi seperti yang di damba, Hanya doa yang dapat terpanjatkan

Abdi

Gambar
Aku melangkah dengan kaki terburu-buru Tanpa beralas pelindung tanpa berpayung teduh Kebahagiaanku ketika semua ke-aku-anku terpenuhi Siapa yang menghalanginya adalah musuhku Perjalanan panjang ini ku lalui Dengan tangan tanpa ada jemari yang mendekap di sela-sela rongganya Aku masih tegap saja, itu tanda aku masih kuat Puluhan lubang di jalan tak henti-hentinya  datang Iya, aku terjatuh dan bangun lagi entah keberapa kali Aku masih ingin berjalan Meski lara seorang pahlawan beriringan dengan tangis sang pemilik surga dunia Ridho yang masih belum ku dekap, Aku masih berjalan, bukan berlari bukan tegap berdiri Sampai pada darah yang keluar, badan yang remuk, serta nafas yang telah kempis Hanya air mata surga sebagai pintu hidayah, Yang menyadarkan aku dari dosa sejarah Langkahku terhenti, namun aku masih berjalan, Dengan lajur yang menoleh ke kanan kini Aku kini telah berhenti, Pada sebuah tempat dimana hanya ada di dalam surga yang bernama pesantren Ku bukatkan ...

Sunyi

Gambar
Hening, Tak ada suara, Sepi, Tak ada irama Bosan, Mungkin ia Alunkanlah, Irama indah Pejamkanlah, Sepasang bola mata Lalu bermimpilah, Untuk melanjutkan perjuangan Lalu beraksilah, Untuk mewujudkan itu semua Gerbang itu selalu bisa terlewati meski tertutup rapat, Janji itu selalu terpatri meski tak nampak pandangan Jangan katakan nanti Bahkan untuk esok kembali Sekarang engkau bisa, Sekarang engkau ada, Sekarang untuk aksi nyata. Sunyi hanya menemani Impianmu menjadi aksi.

Ekspektasi Semu

Gambar
Bak surga, selalu indah dan bahagia Apa yang di harap dan dipuja Takkan pernah ada tangis airmata Semua bahagia semua tertawa Pikiran melejit ke angkasa Begitu cepat begitu hebat Entah ini salah atau benar Akal tak ingin pusing duluan Dan, tiba pada saat indah itu hanya Ekspektasi semu Fana fatamorgana dunia Karena nyata memang terlalu sadis ketika berkata Inilah dunia, jangan kau bersenang-senang secara merata Sedihlah kemudian, akan kau rasakan penderitaan orang di sekitar Bahwa hidup bukan berada pada kerangka ekspektasi surga duniamu itu, Tapi sedikit kejam dengan bumbu pedas di dalamnya Namun hanya akan tetap indah, untuk orang yang mensyukuri nikmatNya.

Damai Nusantara

Gambar
Masih terlihat guratan-guratan pada pipi seorang kakek tua, Kala ia sedang mengayuh sepeda demi sesuap nasi untuk anak kecil yang sedang menangis di pojokan sana, Ditemani jas hujan dan jutaan rintikan air yang jatuh, Entah itu hujan, keringat, dahaga, atau airmata, Bibir yang mengembang damai bersahut dengan pipi yang telah keriput itu, Menyapa sekelilingnya dengan hangat dan tersipuh Punggung yang tak lagi tegap, gigi yang tak lagi utuh, masih berjalan tak beralas kaki, Mencoba membelai krikil tajam dan rerumputan berduri Kakek telah renta, namun semangatnya masih muda Berbeda dengan pemilik roda empat, berjas dan berdasi disana Ia masih muda, namun hanya ingin enaknya saja. Kaki di atas, leher bersender, tangan menghitung kertas yang bernama rupiah, Entah dimana janji untuk mendamaikan negeri. Namun kakek masih bahagia, dengan keluarga dan makan seadanya.

Surat dari Illahi

Gambar
Langit masih malu menampakkan senyumnya, Bahkan kini ia mulai meneteskan jutaan rintik hujan tanda ia sedang masam gulana, Namun ada yang mendengar suara gemuruh hati insan yang sedang bergejolak risau, Lewat surat undangan untuk menjamu dan mengadu, Kumandang adzan terdengar dari segala penjuru, Untuk mengingatkan hamba agar selalu ingat kepada sang Pencipta, Jangan berbaring atau menundanya, Keistimewaan ada pada yang pertama Keberkahan ada pada yang kedua Dan asih Tuhan ada pada yang pungkasan Mari bersujud dan berdoa, Tuhan selalu ada untuk hamba yang mencariNya