Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Tangga Harapan

Gambar
Ku gantungkan angan Pada angin kerisauan Sulit dijelaskan Menjadi abu dalam pandangan Memintamu tinggal bukanlah tuntutan Menjadikanmu pilihan terakhir pula aku bukan Tuhan Menjadi budak keyakinan ternyata engkau menjajahi peraturan Menjadi legal dan bingal Pergi ke perantauan Menutup pintu dari depan Tanpa mengucap selamat tinggal Masih saja mengemis perhatian Macam tak berdosa mengeluarkan darah dari suntikan Meramu rasa menjadi kebanggaan Menebar kabar menjadi pahlawan Memutar balikkan fakta siapa tersangka siapa dalang Menjadi sesosok malaikat berhati tajam Maka sisa harapan yang mana Harus ku idamkan Pemilik rumah pergi tanpa menjual Seisi rumah menjadi deburan lalu hilang

Lelayu Senja

Gambar
Daun itu telah jatuh,  jauh dari pohonnya, terbawa arus angin, di terpa terik mentari  hujan hujam petir.  Sekarang ia telah rapuh dalam sepi,  mencari singgasana macam istana abadi,  tapi ia sadar... Ia masih merangkak sendiri,   berlumur lumpur terhalang bebatuan menghampiri.  Belum lagi injakan kaki anak manusia, tanpa dosa di atas nestapa beserta tawa khasnya mengiringi  rusaknya kerangka menjadi fana.  Lalu ia mulai di kenang sebagai nama,  sedikit cerita, banyak buruknya.

Selamat Ulang Tahun Pujaan

Gambar
Bintang bersinar seraya tangisan terujar Sambutan riuh dari penantian panjang sembilan bulan Dari para pemilik doa dan harapan  Bayi mungil nan ayu kini tumbuh besar Di pundaknya terdapat sejuta cita berselimut cinta Selamat ulang tahun pujaan  Semoga sholihah lakumu terjal Pula abadi cantikmu idaman Barokah dunia akhirat engkau genggam Aku disampingmu untuk segala pengharibaan

Takeru Do

Gambar
Tebaran sayap melalang buana menata singgasana keabadian Safana mencari pelita saluna mengamalkannya Berjuang di jalan ilmu berjihad tak pandang waktu Dari fajar mega sampai senja menyapa Kantuk dahaga juang mengabdi paduka Memegang amanah menata surga Mengeja abata dari celotehan si mungil di taman baca Kitab kuning di tangan, kuda Besi merah muda sahabat perjalanan Menuju gerbang pintu penjara suci idaman, Sarung dan kopyah identitas kebanggaan, Berpuluh kawan melantunkan ilmu ratusan tahun kisaran, Kepada nusa menjadi benteng pertahanan Demi negeri elok pujaan cita dan harapan Jangan khawatir ibunda, rumahmu aman di dekapan para pejuang Mempertahankan keutuhan mengobar panji kedamaian Aku ada di Garda depan, Selama nafas masih di kandung badan, Dan ridho kiai selalu di genggaman, Pribadi hamba serahkan, Ngaji, Ngabdi, dan berdikari Pada Bumi pertiwi. *cerita seorang sahabat yang waktunya di abadikan untuk menuntut ilmu di sarang, mengajar madrasah d...

Istana Bayangan

Gambar
Kau masih saja membawaku ke lautan luas Terombang ambing di pusara bimbang Menjemu haru berlumpur luka Kau masih saja menghujami ku peluru nestapa Saat hujan tak henti jatuh di pelipis mata Menghapus pengharapan mimpi pujaan Apa kau kira menjadi diriku itu mudah? Membangun puing-puing kehilangan Bertemu engkau yang ingin merobohkan istana keyakinan? Bata demi bata do'a dan airmata, Bersujud di pengharibaan Tuannya, Menggibahkan mu di dalam setiap do'a teriring derai air mata Menghibahkan hati yang menganga luka tak terobati Reruntuhan tak berpuing, rata dalam tepian Menyederhanakan rasa ternyata kau bukan jawaban sebenarnya Rasaku mengharu biru menemu takdir Kala paradumu bukanlah ta'bir Terimakasih unt luka yang kau beri Cukup tau yakinku di atas ragumu Juangku terpenjara pada resahmu Istana bayangan mengalun indah hanya akan tetap menjadi semu Kau tak perlu malu Inikah karma jika aku memilihmu dan kau berlalu Terimakasih ku menjadi uca...

Pengharapan Keharibaan Tuhan

Gambar
Dedaunan yang jatuh dari ranting Berjalan lurus mendekat tebing Terhempas lepas berpayung andil Menggenggam ingin merasa terpelanting Sejauh takdir Tuhan menyatakan kisah kasih Sepasang hamba tak akan bersanding Semata ingin membuka tabir Bahwa selama ini ia hanya mendekap angin Karena semesta tak ingin mengerti Keserasian warna dan kembang senyuman ternyata tak mereka kira seirama Bahwa yang merasa yang tau jawabannya. Kisah akan menjadi kenang Juang pertanda menang Pesimis hanya untuk pecundang Doa menjadi akhir dari ketulusan Hari ini bukan akhir Esok bukan ilusi Ini tentang takdir Pengharibaan indah di istana abadi Bersama kawan sesyurga nanti

Elegi Senja

Gambar
Aku hanya memaksa logikaku untuk sakit hati, Menjelaskan pandanganku menjadi semakin jelas, Jatuh ke dasar samudra kepedihan semakin dalam, Aku hanya membenturkan kelalaianku dalam ketidakpastian, Menerbangkan airmataku menjadi lautan, Terbahak-bahak dalam alunan nyanyian, Semerdu kisahmu dengannya yang mungkin menjadi idaman, Aku hanya ingin sibuk, Mengurusi duniamu yang sudah terisi keindahan, Menjadi penonton bayangan bercumbu dengan lara dan nestapa, Aku hanya, Ingin sakit hati lebih dalam, Lebih ingin dengan jelas, Melihatmu memukul dengan keras, Menghancurkan dengan amarah, Sepatah dua patah kata mu sungguh menentramkan, Meski hanya dengan jawaban ketidakikhlasan, Aku mencintaimu, Meski engkau mulai enggan. Memotong habis harapan, Menjadi khayalan.

Pusaka Dua Dunia

Gambar
Selamat Tahun Baru Untuk cerita yang lebih syahdu Menebar kriteria dengan wajah suci Tak tau masa lalu belum selesai di uji Idealisme purna Untuk cerita purba Spesies mana Yang kau bunuh dengan keji, lagi. Tak usah perduli Aku masih tegap berdiri Pusaka mu semoga tahan uji Untuk berkawan dunia sesurga  Bersama mu kini dan nanti Cukuplah air putih yang di tegup habis Air mata ini, jangan.

Sarjana Zaman Milenia

Gambar
Mentari masih saja tersenyum puas, Terik berpacu dengan mendung mega, Hari berjalan beserta kenangan, Tali toga sudah berpindah ke kanan, Riuh teluk tepuk tangan menyambar, Kata orang strata empat sudah di tangan. Namun itu sudah beberapa tahun silam, Harapan lulusan menyambut dunia dalam genggaman, Atau lapangan pekerjaan siap menerima pengabdi bangsa berketuhanan, Tut wuri kehidupan telah dijalankan, Masih saja merebahkan badan di kasur pengharibaan, Dua puluh empat jam, Padahal empat tahun atau lebih menimba ilmu demi kesejahteraan, Atau menyambung cita orang tua ingin penerusnya mapan, Apakah kertas2 akademisi masih dibuka, Atau hanya berserakan sebagai syarat di muka, Mampukah berakhir dengan bahagia, Atau nestapa. Selamat datang sarjana muda zaman milenia, Ingatkah ayah bundamu merangkak demi sesuap nasi dan bekalmu berhuru hara, Ditambah lagi administrasi yang kau palsukan sebagai garukan darah punggung pundi-pundi rupiahmu kepada mereka. Masihkah en...

Tudung saji abadi

Gambar
Tiang di sudut rumah telah tampak lusuh pula rapuh Rayap yang pemakan itu sudah tampak kenyang dan lelah bekerja siang malam, Menghancurkan penyangga iman sedikit demi sedikit, Atas nama pekerjaan memakan waktu, Atau rasa malas merajai nafsu, Hingga tersingkap semua aurat pembunuh hati Angin seolah tau mana hamba yang sudah tak berdiri tegak lagi, Menghempasnya ke ujung tepi, Mencela satu kata seribu arti, Debu pun memgatakan iya pada setiap tempat dihampiri, Ketika takbir telah di ucap, ketenangan lantas pergi jauh, Hingga hinggap rasa ingin salam sebelum tasyahud akhir. Tudung saji abadi tak terisi, Luka menganga tak terperi, Apa kabar hati yang tak lagi memiliki penyangga, Masihkah beserta iman, islam, dan ruh islami bersembahyang dalam hamba peraih ridho semesta? Astaudi'ukumullah birridho wal ' afiyah

Kaki Berpasang Tiang

Gambar
Aku memuja hujan jatuhnya bertaburan Memberi rindu hinggapi keraguan Menuntun pagi dalam gemerisik tangisan Seperti angin yang tak pernah enggan datang Dirimu hadir selalu dalam lamunan Bahkan mimpi pun semu dalam ikatan Meraba parasmu dalam jawaban Pernahkah kau pula rasakan Hati iba melihat senyum yang tumbang Risau pulakah penantian yang tak juga bermuara Kala pandang masih saja pudar buram Meski sesekali jelas dalam tatap Tetap istiqomah dalam tahap Sesabar bintang menemani angkasa Akan ku lakukan seperti yang engkau pinta Beribu teling dan air mata ikut merasakan getir manis cerita Engkau masih tertunduk malu memendam semua Memang bukan ingin pula angan Haq hanya pasrah ikhlas menerima Segala ketetapan takdir sang Pencipta Rasa.

Juang Pemerdeka Tujuh Puluh Dua

Gambar
Tulang punggung yang direbahkan di atas bumi Membersamai keringat jatuh menyirami tanah Di rumah kayu rapuh dengan satu penyangga Terdengar siup suara pada tiap jam yang sama Semakin kencang ketika waktu mulai melangkah bertambah Meminta suapan nasi penghilang amarah Kedua binar mata karena tangisan perut kosong itu Mencoba berbicara dengan satu irama Saya tidak makan sedari senja Hingga saluna bertemu safana meminta sesuap airmata Dengan katup mata yang penuh gurat Tangan yang tak lagi tegap Kaki yang terdiri dari tongkat sebagai perangkat Memeluk dinding ratapan berharap cinta belas kasih Menopang rumah agar tetap kokoh meski tanpa pamrih Bersama hujan, matahari bermusim durja Veteran kemerdekaan yang masih mendekap senyuman dunia Masih saja lumpuh membiru dalam kenangan tujuh puluh dua tahun silam Sejak merah keberanian dan putih kesucian telah berkibar Dengan darah berkucuran tak terindahkan Tunjangan tak seberapa dengan jasa mengusir penjajahan Masih jua berju...

Membunuh Hampa

Gambar
Tanah terhampar di hati perempuan patah hati, Menipu dengan jutaan senyum menganggun lembut, Dia berkata pada kaca ada bahagia yang telah terenggut, Telah meninggalkan jutaan keping pilu menguras airmata, Menembus dinding-dinding sabar dan ikhlas membiru, Luka, jangan lagi tanya. Pergi, sudah ke beberapa . Kembali, entah kali kesekian. Gurat sendu menipu jemari rasa mengundang durja, Membongkar benteng keakuan dan keegoisan, Mengemis dalam tiap detik sepi, Meminta satu kata penenang, Berakhir pada pagi membisik bumi, Bahwa kaki tak lagi ingin melangkah pasti, Menjejali duri meneteskan darah di pipi, Buang semua acuh dan perih, Sepiku ingin engkau disisi, Jangan lagi pergi tanpa permisi Jangan lagi tinggal untuk menguji, Perempuan patah hati butuh penyembuh luka bukan pembuat derita, lagi.

Hempas

Gambar
Patah Berkeping, Runyam terjalin, Asa menyublin, Silau bersiul, Bibir merekah, Hati merengkuh, Badan terkapar, Mata kosong pandang, Desir pasir menghempas, Tanpa daya makna, Aku, bukan siapa-siapa.

Peluk Hamba

Gambar
Yang disana, Lebih indah juga hijau, Ranum harum semerbak pucuk kejayaan, Di beri di hampiri pula dipuja tinggi, Selalu jaya mencakar langit tujuh keistimewaan duniawi, Kata andai menjadi angan pribadi memandang, Adakah celah mampu masuk kedalam dunia rumput tetangga katanya, Yang disini, Berjuang sekuat tenaga, Perih tak terhingga, Jatuh bangun membangun dengan pondasi utuh, Namun tetap saja sama saja. Padahal, jalur sudah di tetapkan, Bahagia sudah digariskan, Jangan lagi ada caci apalagi iri, Tuhan memberi sesuai porsi, Bagaimana engkau menempatkan dan menjadi hamba berbudi Menjadikan kewajiban di atas segalanya, Menjaukan larangan tanpa alasan hawa, Jadikan kaca sebagai cermin diri, Pandang diri sebagai obyek juga pelaku, Biarkan mereka dengan segala rizki, Engkau dengan usaha jerih payah tanpa terikat ilusi. Allah maha Adil, Rohman Rohimnya akan terus mengalir, Untuk hamba yang mendekat, peluk erat setiap amanat.

Dekap Illahi

Gambar
Rona rasa membelah jiwa ekspresikan apa, Seri muram candu gulana wajah tanpa pucat basi membiru nada, Airmata ambigu menafsirkan kata Dekapan haru meneduhkan kaca, Bak sepatu satu paket rasa satu paket cerita, Luapan hati mencari obat menghibur diri, Basuhi aku nasehati aku sadar syukur,  Untai dzikir mencoba mengiringi setiap lanngkah kaki,  Kedip mata  menghamba tenang dan memeluk damai, Kebahagiaan mana lagi yang engkau masih cari, Sesuap gemerlap mana lagi yang masih engkau tempuh, Buang semua ingin dan enggan, Sahabat sejati adalah kematian, Kala nikmat nafas diputus martabat tak berarti kedudukan tak terperi, Kala nama tinggal nada tak berarti, Tinggalkan  atsar  saat  asr . Sepanjang masa meninggalkan cerita, Jangan menakdirkan apa yang belum ada, Jalani saja apa yang di dekap, Ikuti saja alur skenario Sang Pemilik Cerita, Patuh abdi  ngabdi  kepada Gusti Jangan lagi risau, sepi, dan mencaci, Semesta bukan hanya sekotak ilusi  dz...

سيرة

Gambar
Mengikuti alur Di luar lajur Unt membaur Pribadi yang bersaur Apa guna utuh Jika jarak harus ditempuh Apa guna senyuman Jika obyek tidak memandang Membawa api Pada sanubari Membawa luka Pada airmata Kertas utuh Masih rapi Tanpa tersentuh Sampai tiba waktu untuk Bersatu ridho halal dan restu Peluk genggam rangkul penuh Ikat erat senyum semangat Jalan takkan terjal bersama yang kuat Jalan berliku untuk yang selalu menggerutu مع السلامة بعون الله

Asing

Gambar
Berjalan berdua Tanpa usaha bibir terbuka Menuruti jangka kaki seirama Menjangkau jemari mencoba mengabdi Masih dengan sepi tanpa nada Tertunduk ragu seribu bahasa Kokoh tak tergoyah mengacu haluan Masa depan seribu isyarat makna Mengayuh mengacu merayu memilu Surau seram wajahmu muram Sergap serbu seribu buram Tanda tanya aku mengadu Tanpa kata engkau menatapku Sorot mata isyarat binar kepastian Bibir kembang pertanda bahagia tak terhingga Kedamaian ada, dalam panggung punggung pemula pemuda Meski kita, Masih asing tak berbicara tak bertatap muka.

Horizontal atau Vertikal

Gambar
Engkau menghilang, Tatap ku kosong beradu pada awan, Rupa segala daya ku hapuskan meski bayang tak pernah hilang dari pandang Memeluk bayangmu bahwa kerinduan bukan hak ku tapi tetap saja itu aku. Menatap seribu detik purnama berganti kau masih saja di hati. Entah apa sejatinya komunikasi yang di sebut sebagai kedamaian, Aku membuang muka jauh untuk yang selalu datang, Aku mempertahankan penuh untuk yang selalu menghilang. Maafkan, inikah hubungan sakral. Dimana aku menghubungimu dengan sujud dan do'a. Inikah kedamaian, saat tak ada tuntutan mengikhlaskanmu pergi dan tanpa kabar. Atau inikah rupawan, Mampu memikat hati tanpa ada kata buai dan belai. Inikah engkau, Mampu menali hati membuat kedamaian dengan cara yang anti mainstream. Inikah jalan vertikal yang engkau pilih Menitipkan cintamu pada sang Pemilik rasa membiarkanku merana pada bisik bumi agar sampai ke semesta. Inikah? Maka, harus dengan apa aku tersenyum dalam tangis airmata. Karena segalamu ku hormat...

Simpuh, Tuan

Gambar
Tuan, Adzan sudah berkumandang Dari muadzin surau nan tampan, Bolehkah kita segera tumandang, Sholat berjamaah dua puluh tujuh tingkatan Tuan, Sajadah panjang sudah ku gelar Maukah aku yang iqomahkan Atau tak mampuku tuk memandang Banyak kekuranganku semoga engkau mau menyempurnakan Tuan, Ijinkan aku salim setelah salam Untuk melebur segala dosa yang pernah terluka Atau lara yang belum padam Untuk senyuman yang akan mengembang Tuan, Hadiahi aku alfatihah kesempurnaan Untuk memperbaiki imanku yang kian memudar Mendapati jalan terjal tak pernah rentan Membentengi diri dari apapun yang ingin merobohkan Tuan, Berikan hakku atas makmummu Akan ku hormati engkau sebagai imamku Retakan kaca jangan pernah ada Atau sayatan nestapa siap menjadi cerita Tuan, Lukaku masih basah Basuh basahi aku siram dan faham Seperti derai air bertemu lautan Engkau damai dan menyejukkan Tuan, Isya' akan seger datang Jemput aku kembali dari paraduan Ku kayuh sepeda menung...

Kopi

Gambar
Kopiku sudah matang, Beranjak dari seduhan, Untuk tuan sebagai minuman, Silahkan cicipi selagi hangat senyuman. Kopiku tak pahit, Tak pula manis ucapan, Kopiku ingin engkau berkenan, Menikmatinya tanpa harus berbayar. Maaf, meski Kopiku berampas, Tak usah kau berhempas, Akan ku ganti sebelum kau rampas, Untuk sekedar tau kau pertarung yang buas. Aku tak menyediakan teh dan lainnya, Aku hanya punya kopi, Meski hina tapi aku bangga, Setidaknya punyaku tidak membabi buta. Terserah mau kau remix dengan apa, Kopiku tetap kopi. Hitam pekat tak punya celah tak punya titik, Ia tak bersandiwara, unt menciptakan konflik. Kopiku hanya secangkir, Namun, tetap saja kau masih berfikir, Sampai malam telah tergelincir, Kopiku masih setia  tanpa getir. Tunggu dulu, jangan buru-buru, Beranjak pergi tanpa senyuman kau bayarkan, Unt hamba selagi masih ada, Sebagai kedamaian meski tanpa rupa.

Kata Kita

Gambar
Mengukir kata, Menjadi kita. Melebur keakuanku dan keegoanmu, Menjadi kita, Menyatukan pandanganku dan asamu, Menjadi kita. Menyusun deretan tangga hidup, Menjadi milik kita. Mengukir rasa kehidupan, Menjadi cerita kita. Maukah engkau, Menjadi imamku, Menunjukkan jalanku, Menuju JannahNya. Maukah engkau, Mendampingiku, Di saat dunia tidak berpihak yang lemah, Di saat air dan api bertarung memperebutkan jajaran adikuasa. Mampukah aku, Menjadi Khadijahmu, Saat semua gemerlap dunia harus ku tinggalkan, Saat petuahmu adalah yang utama. Mampukah kita, Membangun singgasana, Bukan hanya di dunia, Tapi pula di surga. Maka, ijinkanlah aku. Menjadi makmummu, Unt setiap sholat maktubah, Unt semua petuah, Unt menjadi yang sholihah. Maafkan semua laku, Yang tak berkenan di hati indahmu, Aku hanya tulang rapuh, Tak bisa di keras pula di halus. Wahai Kawan surgaku, Ku buang semua perangai burukku, Demi senyumanmu nan abadi, Demi apapun yang engkau mau, Demi masa...

Njenengan

Gambar
Bolehkah kata keindahan ananda tuliskan dengan deretan abjad mesra ini. Bahwa muara itu terpancar tak jauh dari tatap mata menyimpan ribuan asa dan rasa, Saat senja bertemu senja bertamu dalam keabadian rasa memeluk mesra jiwa. Saat ananda mengikuti langkah kaki ringanmu mengabdi menjadi makmum pondasi agamamu. Maka, Jadikan aku pengikut setia mu dan jangan lagi menoleh kemanapun engkau mau, Agar semesta pun tahu ada Njenengan di setiap jengkal kelopak mata mengatup pasangan menggetar jiwa. Meskipun, Tetap saja keindahan yang ada di hati tak bisa tergambar gampang setara dengan apa yang ada di hati. Tapi, mampukah ananda memendam sendiri dalam detik jarum jam menggema, Bersama dengan kerinduan yang kian bersemi, Adalah Njenengan yang selalu menghiasi. Entah dengan ukiran apa jangan tanya ananda tersenyum di setiap sudut jam berbunyi. Ada Njenengan yang tak pernah lelah merestui, Setiap langkah menuju singgasana surga menggenggam jemari mahligai halal dalam silaturrahim. Mas...

At-Madja

Gambar
Dari lembah pegunungan nan asri itu, Semua hidup guyub rukun permai budi, Senyum mengembang tanpa mengenal jarak dan sesiapa, Penuh rangkul tanggung jawab menggenggam rasa haru biru bahagia, Lahan luas yang dulu tak pernah terjamah, Kini kian rapi tanpa ilalang meliputi. Segerombolan pemuda mengatasnamakan lembaga merintis paguyuban dari rumah ke rumah, Merelakan separuh lebih waktu memajukan desa tanpa pandang bulu. Meski bukan wilayah agamis, Budaya dan agama sangat di junjung tinggi. Inilah negeri tanpa polusi, Nyawiji agami lan kabudayan sebagai kata penuh makna, Tak ada kebisingan ego dan modernitas mengelabui. Jangan berani melempar tangan menikam baja memercikan darah pada keluarga kami, Kalau tak ingin satu desa menghampiri. Meski bukan saudara kandung, tapi kesolidan dan rasa memiliki melebihi ikatan batin satu darah. Mengabdi dua puluh empat jam kami tempuh, Demi kemaslahatan ummat yang penuh dan patuh. Tiada kata yang pantas tergambar mewakili keindahan, K...

Tanpa Judul

Gambar
Purnama masih juga berganti,  Namun esistensi rasa masih juga menepi,  Aku bertahan dalam sepi,  Memandang kaca penuh retakan hati,  Meski engkau telah berlalu pergi,  Rasa yang engkau tanamkan masih saja bersemi, Melupakanmu mungkin jalan yang memang ditempuh,  Memilikimu masih saja angan yang melambung jauh,  Namun menghapus rasa unt mu adalah daya yang masih ku perjuangkan penuh,  Aku masih saja berlari pada titik yang sama,  Menghapus keharmonisan senyuman seraya tangisku menggema,  Apa daya hati ingin berucap jangan,  Jika hatimu tak lagi enggan,  Masa depan kelabu masih saja merasuk perih,  Saat aku jatuh cinta, dalam diam, dalam-dalam, sendirian,  Tertawakan tangisanku, acuhkan kegalauanku, namun ingatlah namaku.  Atas nama apa aku bertahan  Satu nama yang masih aku pertahankan,  Perjuangan ku bukan sampah serapah Aku sendiri, mencintaimu setulus hati Aku bertahan, karena bagi...

Kelabu

Gambar
Perempuan di balik tirai, Sedang menunggu doa yang terijabahi Dalam kerumunan kain putih di atas sajadah tangan menengadah Ia berbisik ke bumi semoga langit mendengar Pinta demi pinta untuk lamanya penantian musim berganti Sementara hujan masih saja jatuh, Entah di pipi entah dari langit semesta. Jarum jam yang seolah melambat menadakan hari tak jua cepat Langit kelabu memenuhi ufuk timur menggenggam kegelapan, Karena terang sedang pergi entah kemana Jarak masih juga tergerak, Restu masih juga membisu Ku gayuhkan tangan salim kepada sang ibu Gerbang semesta semoga meridhoi Perjumpaan kita di persimpangan jalan, Semoga berakhir di pelaminan, Meski tak saling kenal dari hari hingga tahun berjalan. Kita bersatu dalam ikatan keyakinan. Salam mengabdi pada tinta ikatan suci.

RasA merajai rasa

Gambar
Buku itu setiap hari dibuka, Lembar demi lembar yang belum juga  usang, Kadang menoleh ke cerita purbakala, Tertulis deretan kata menyimpan berjuta makna, Tak syarat mentari dan rembulan menemani langkahnya. Ia tersenyum dan menangis beriringan bersahutan. Tentang kehidupan dengan darah berkucuran, Atau kedudukan dengan selir dan mata uang berserakan. Tentang tawa kepuasan dihati para pemenang, Tentang janji pemimpin yang selalu di abaikan, Jangan masuk dunia perpolitikan, Kata guru ngaji yang wira'i selalu terniang, Masih dengan raut muka polos si anak yang lagi belajar bersarung, Dengan kopyah lusuh dan sedikit dimiringkan, Eskpekstasi mengatakan dunia yang indah mengapa tak boleh dimasuki, Mengapa dan kenapa bercampur aduk dr masa kemasa. Anak beranjak dewasa, Ia mulai mengerti tentang rasa, Gemilang jalan mulus tak berlubang, melangkahkan kaki pada tingginya kedudukan, Kaki mulai terhenti pada janji tentang kepemimpinan, Guru yang selalu membimbing, men...

Atas Nama Cinta

Gambar
Langit begitu pekat, udara bersemayam pada jiwa pencari hakikat, Sinar menjulang ke langit merobohkan mindset ketidakpedulian, Intensitas di pertaruhkan demi istiqomahnya pamor dan ranking kedudukan, Para kaum diam dan bisu sedang berada di balik tirai doa dan airmata, Para speakers sedang berlomba-lomba menaiki tangga untuk strata dengan satelit angkasa, Sekarang dunia hanya ada dua rasa, Puja dan lara, Memuja dengan sebaik-baik ucapan, Menyayat lara dengan seburuk-buruk tindakan, Namun, masih ada. Satu rasa yang tertinggal, Ia memilih kedudukan di balik pijar lampu jalanan, Berdiam bak patung tanpa harga dan pantas dihina. Seperti menghilangkan hawa keberadaan, Ia bukan acuh dengan segala apa, Hanya lelah telah menguras daya dan upaya, Hanya getir pahit kopi yang ternyata menyimpan duri. Atas nama cinta, Segala rasa yang tumpah, Segala senyum merekah, Dan keringat bercampur darah, Atas nama cinta, Berkorban demi sebuah rasa, Kanan dan kiri lajur utama, Kobaran...

Perempuanmu

Gambar
Aku, Mencoba menjadi sebagian dari diriku, Karena sebagian yang lain akan kau isi, Petuah dan kehangatan ku anggukan dengan penuh santun, Meski, Aku bukan intan yang berhak kau perjuangkan, Tapi segala daya ku korbankan demi sebuah restu darimu, Engkau bukan segala, Tapi segalaku adalah kamu, Karena, Engkau jawaban dari istikhorokhku, Tak usah dengan janji melangit, Tak perlu harga untuk menyilaukan, Harta berhargaku adalah kamu, Tak enggan seribu jam penantian, Tak risau kalimat yg kurang sempurna untuk kata pujangga, Apa adanya engkau adalah kesempurnaan, Engkau sedang di ketinggian jabatan, Atau berada dalam jurang reruntuhan, Aku ada. Selalu. Tanamkan semua rasamu, meski itu gelisah dan amarah, Kepadaku, untuk paraduanmu. Karena aku perempuanmu. Tak usah kau risau, Dengan teman "emansipasi wanita" yang membooming ini, Atau kepemilikan hak di atas kata setara Aku masih di bawah lenganmu untuk semua laku, Aku masih dibawah kakimu untuk segala rest...

Lima Waktu

Gambar
Lihatlah, Disana, Terdapat rumah yang kokoh, Lima tiang sebagai pondasi, Megah dengan ornamen emas yang berlafadz Arabi, Sebagai pintu masuk dan keluar hari, Bersahut undangan dari surau menyejukkan hati, Bermula dari fajar shodiq, Berjalan menuju matahari tepat berada di atas kepala, Lalu sebelum senja terbenam, Disaat senja terbenam, Dan mega senja mulai menghilang. Hanya Lima dari dua puluh empat jam jarum jam yang diminta, Ditambah dengan kesunahan yang ikhlas menjalankan. Namun disana, Dari sudut yang lain, Tampak rumah megah dengan ornamen emas, Tetap kokoh berdiri dengan penyangga yang kian runtuh, Mengelupas dengan kesombongan waktu yang dibuang dengan cuma, Lima waktu demi dua puluh empat jam dibuang demi harta dunia, Di dalamnya masih terdengar sahutan senyuman para punggawa, Berpeci dan berkrudung, Mengucap dzikir penyejuk kalbu, Namun ia melupakan lima waktu, Jangan runtuh, jangan lusuh, Kau tak kan kuat menanggung derita meninggalkan, Makan tak en...

Sang Mujahid

Gambar
Sorak sorai dari pojokan jalanan, Membuat riuh kota yang penuh kesederhanaan, Anak kecil tanpa bapa masih mampu tersenyum tanpa guratan senja Setelah kebahagiaannya terenggut di ufuk saluna. Menjadi sebagian dari para pejuang negeri, Memerangi ideologi, keserakahan, dan keangkuhan penguasa kini, Mereka lalu meminta asi, kesurga yang mereka huni, Merengek kesana kemari, Seribu bahasa dengan ejaan tangisan yang mampu kami tafsirkan, "ibu, anakmu lapar, ibu.. " Menghampiri sesosok jasad yang telah kaku, Karena benda yang teramat keji merenggut nyawa, Lautan merah kental menghiasi pusara ibunda, Namun, anakmu masih ingin mendekapmu, Merangkak dengan kaki dan tangan, bermuka kusam dengan seribu makna, tanpa ejaan kata yang dimengerti manusia, "jangan pergi tanpa aku, ibundaa" Namun engkau tetap enggan, Membawaku dalam dekapan, Kami hanya mampu berlinang kaca, Dan bisu seribu makna, Selamat jalan mujahid ideologi kaum mayoritas, Kami selalu mendoakan ...

Sangkar Kerinduan

Gambar
Terbanglah, Merpati putih nan berseri Bebaskan dirimu dari belenggu hati Menggapai mimpi, cita dan (mungkin) cinta (yang baru) Menembus awan menggapai mahligai keindahan Pancar sinar mentari menuju senja, Lalu kisahkan kepada kawan, Tentang cerita kehidupan, Guratan senja mengukir sendu Kembang rekah senyum pancaran mentari menangkis elok gerimis kala itu, Bergeming dengan nada tak pasti Bawa bekal, kecup tangan sebagai ridho engkau mengembara Lalu kembalilah setelah senja tiba Kepada Sangkar, Kepada kebahagiaan, Ia telah rusuh nan kumuh, Tersapu persaingan strata sosial dan perdebatan identitas dan ras Kembalilah ke sana, Penantian seribu menit dan airmata keresahan menyapa, Untuk keluarga yang terucap dalam doa, Salam damai dalam menuntut ilmu dan mengais rizki unt singgasana surga. Semoga lindungan Allah selalu mendekap dalam jiwa. Kami menanti engkau kembali.

Tanda Tanya

Gambar
Langkahku terhenti, Pada derai hujan yang turun di pipi Semangat yang sedang membara, Bersamaan dengan hati yang sedang terluka, Aku bisa apa, Engkau mentari yang mengiringi mendungku, Engkau keindahan di setiap gelisahku, Engkau langit sedang aku debu yang berterbangan terbawa hilir angin, Jangan raih tanganku, Jika hanya untuk kau hempaskan, Banjir rumahku telah surut, Figura hatiku telah patah Kaki ku tak lagi tegak menginjak, Duri seakan melintang sepanjang jalan, Kemana kaki ini bermuara, Jika hanya darah dan airmata yang ada, Puncak kerinduan ku tak sepadan, Karena terhalang lalu lalang para pemuja paras rupawan, Pergilah jika kau ingin, Ku ikhlaskan tanpa bergeming. Tanda tanyaku tak usah kau jawab. Aku berdiri untuk tegar mendekap

Permata yang Hilang

Gambar
Terengah-engah di kerumunan lalu lalang pemuda pemudi Terhempas jauh ke dasar samudra kegalauan Suasana hampa di ribuan pijar lampu senja kota Jarum jam menunjukkan akan tibanya waktu buka puasa Mereka, bercita-cita menghentikan waktu agar tidak melebihi batas yang telah di sepakati bersama Di atas aspal ditemani polusi, pekat, dan iring-iringan kendaraan, Tanpa sekat namun tetap saja tak bisa gerak Gedung pencakar langit itu tersenyum getir memandangku yang lusuh lagi bau Kurang lebih setengah lima waktu saluna aku meninggalkan keluarga Kini aku ingin lagi memeluknya Tak henti telepon genggam berdering tanda aku sudah di nanti, Namun ketika aku sampai makanan sudah basi, Anak-anakku sudah lelap, istriku sudah letih tak berdaya, Roda tak ingin berputar sepertinya, Setidaknya 24 jam bersama mereka, Apa di kata, rekah senyum dari mereka yang ku perjuangkan, Demi sesuap nasi dan secuil strata di atas rata-rata, Meski dengan dahaga tanpa rupa, Permataku tetaplah tinggal, ...

Dahaga Para Pekerja

Gambar
Langkah kaki yang tak beriringan dan tak senada sama, Menghiasi subuh kota penuh pekerja, Penghuni ibukota dan segala dahaga berpenghasilan tetap mulai menata, Tak semua sejajar seperti ekspektasi sebagian pihak, Dipundaknya tergantung beban kerja dan kehidupan bak kerajaan, Namun sebanding dengan hidupnya yang sering banting tulang, Anak yang entah kemana, ibunda yang bekerja lebih dari kadarnya, ayahanda yang tidur dan bangun tanpa diketahui pastinya, Berjalan hari demi hari dengan senyuman, kadang dengan tangis yang berbading lurus dengan dahaga yang terbayar, pijar lampu entah itu gemerlap malam atau teriknya matahari, menyelimuti berangkat kepulangan sang pencari rizki, angin masih saja sejuk meski banyak polusi, Raga masih kuat meski tak banyak memakan suapan nasi, Tetaplah tersenyum untuk kuasa Tuhan yang selalu memberkati.

Terbanglah Para Ghurobaa'

Gambar
Riuh suasana pedesaan, Bak pasar yang berada sepanjang musiman, Burung-burung terbang bersamaan, Kicaunya terdengar bersahutan, Ada lagi pedagang lalu lalang, Menawarkan jajanannya bermacam-macam, Mereka, berjalan seiringan, Bergandeng tangan, berirama senada, Langkahnya membunuh setiap kedengkian yang ada di titik poros hati, Mereka menampikkan perbedaan, mengutamakan persaudaraan, Tidak dengan mereka yang berbeda pakaian, Tidak juga dengan yang memuja kitab yang berbeda. Pohon yang tinggi menjulang mereka menyebutnya teduh, Pijar Lampu yang berada di pinggir jalan mereka menyebutnya keindahan, Ada yang menolak makanan dengan alasan sunnah, Ada yang menghormati dengan sopan mereka menyebutnya kesatuan, Karena mereka Indonesia, Kebhineka tunggal ika yang mereka junjung tinggi, Hal yang kecil tetap saja tak kasat mata, Hal yang besar membuat mereka mengerti arti lumrah, Maka, wajar saja jika ada yang terbang tinggi menjulang, sendirian! Sebagai pelengkap dan bumbu k...

Idola

Gambar
Seorang tuna wicara, sedang memandang lalu lalang jalan raya, Menengadah kedua tangan ke langit angkasa, Berharap untuk apa yang di puja, Untuk seorang yang dipeluk mesra, Pujaan hati yang selalu di puja banyak kaum hawa, Disana, masih ada yang menunggu tanpa lelah, Namun masih saja diam tak berkata, Ia hanya ingin di mengerti tanpa perlu banyak berbicara, Ia hanya ingin dihampiri tanpa ingin mengemis airmata, Mungkinkah strata sosial telah menjadi musuh utama pertemuan insan, Atau kelancangan pengemis yang mendamba pujaan istimewa, Kau idola, sedang aku hanya tuna wicara, Akankah bersatu menjadi seperti yang di damba, Hanya doa yang dapat terpanjatkan

Abdi

Gambar
Aku melangkah dengan kaki terburu-buru Tanpa beralas pelindung tanpa berpayung teduh Kebahagiaanku ketika semua ke-aku-anku terpenuhi Siapa yang menghalanginya adalah musuhku Perjalanan panjang ini ku lalui Dengan tangan tanpa ada jemari yang mendekap di sela-sela rongganya Aku masih tegap saja, itu tanda aku masih kuat Puluhan lubang di jalan tak henti-hentinya  datang Iya, aku terjatuh dan bangun lagi entah keberapa kali Aku masih ingin berjalan Meski lara seorang pahlawan beriringan dengan tangis sang pemilik surga dunia Ridho yang masih belum ku dekap, Aku masih berjalan, bukan berlari bukan tegap berdiri Sampai pada darah yang keluar, badan yang remuk, serta nafas yang telah kempis Hanya air mata surga sebagai pintu hidayah, Yang menyadarkan aku dari dosa sejarah Langkahku terhenti, namun aku masih berjalan, Dengan lajur yang menoleh ke kanan kini Aku kini telah berhenti, Pada sebuah tempat dimana hanya ada di dalam surga yang bernama pesantren Ku bukatkan ...

Sunyi

Gambar
Hening, Tak ada suara, Sepi, Tak ada irama Bosan, Mungkin ia Alunkanlah, Irama indah Pejamkanlah, Sepasang bola mata Lalu bermimpilah, Untuk melanjutkan perjuangan Lalu beraksilah, Untuk mewujudkan itu semua Gerbang itu selalu bisa terlewati meski tertutup rapat, Janji itu selalu terpatri meski tak nampak pandangan Jangan katakan nanti Bahkan untuk esok kembali Sekarang engkau bisa, Sekarang engkau ada, Sekarang untuk aksi nyata. Sunyi hanya menemani Impianmu menjadi aksi.

Ekspektasi Semu

Gambar
Bak surga, selalu indah dan bahagia Apa yang di harap dan dipuja Takkan pernah ada tangis airmata Semua bahagia semua tertawa Pikiran melejit ke angkasa Begitu cepat begitu hebat Entah ini salah atau benar Akal tak ingin pusing duluan Dan, tiba pada saat indah itu hanya Ekspektasi semu Fana fatamorgana dunia Karena nyata memang terlalu sadis ketika berkata Inilah dunia, jangan kau bersenang-senang secara merata Sedihlah kemudian, akan kau rasakan penderitaan orang di sekitar Bahwa hidup bukan berada pada kerangka ekspektasi surga duniamu itu, Tapi sedikit kejam dengan bumbu pedas di dalamnya Namun hanya akan tetap indah, untuk orang yang mensyukuri nikmatNya.

Damai Nusantara

Gambar
Masih terlihat guratan-guratan pada pipi seorang kakek tua, Kala ia sedang mengayuh sepeda demi sesuap nasi untuk anak kecil yang sedang menangis di pojokan sana, Ditemani jas hujan dan jutaan rintikan air yang jatuh, Entah itu hujan, keringat, dahaga, atau airmata, Bibir yang mengembang damai bersahut dengan pipi yang telah keriput itu, Menyapa sekelilingnya dengan hangat dan tersipuh Punggung yang tak lagi tegap, gigi yang tak lagi utuh, masih berjalan tak beralas kaki, Mencoba membelai krikil tajam dan rerumputan berduri Kakek telah renta, namun semangatnya masih muda Berbeda dengan pemilik roda empat, berjas dan berdasi disana Ia masih muda, namun hanya ingin enaknya saja. Kaki di atas, leher bersender, tangan menghitung kertas yang bernama rupiah, Entah dimana janji untuk mendamaikan negeri. Namun kakek masih bahagia, dengan keluarga dan makan seadanya.

Surat dari Illahi

Gambar
Langit masih malu menampakkan senyumnya, Bahkan kini ia mulai meneteskan jutaan rintik hujan tanda ia sedang masam gulana, Namun ada yang mendengar suara gemuruh hati insan yang sedang bergejolak risau, Lewat surat undangan untuk menjamu dan mengadu, Kumandang adzan terdengar dari segala penjuru, Untuk mengingatkan hamba agar selalu ingat kepada sang Pencipta, Jangan berbaring atau menundanya, Keistimewaan ada pada yang pertama Keberkahan ada pada yang kedua Dan asih Tuhan ada pada yang pungkasan Mari bersujud dan berdoa, Tuhan selalu ada untuk hamba yang mencariNya