Lima Waktu
Lihatlah,
Disana,
Terdapat rumah yang kokoh,
Lima tiang sebagai pondasi,
Megah dengan ornamen emas yang berlafadz Arabi,
Sebagai pintu masuk dan keluar hari,
Bersahut undangan dari surau menyejukkan hati,
Bermula dari fajar shodiq,
Berjalan menuju matahari tepat berada di atas kepala,
Lalu sebelum senja terbenam,
Disaat senja terbenam,
Dan mega senja mulai menghilang.
Hanya Lima dari dua puluh empat jam jarum jam yang diminta,
Ditambah dengan kesunahan yang ikhlas menjalankan.
Namun disana,
Dari sudut yang lain,
Tampak rumah megah dengan ornamen emas,
Tetap kokoh berdiri dengan penyangga yang kian runtuh,
Mengelupas dengan kesombongan waktu yang dibuang dengan cuma,
Lima waktu demi dua puluh empat jam dibuang demi harta dunia,
Di dalamnya masih terdengar sahutan senyuman para punggawa,
Berpeci dan berkrudung,
Mengucap dzikir penyejuk kalbu,
Namun ia melupakan lima waktu,
Jangan runtuh, jangan lusuh,
Kau tak kan kuat menanggung derita meninggalkan,
Makan tak enak, tidur tak nyenyak.
Di hari tua ajal mendekat.
Perkuat lagi islam kita.
Agar negeri tetap jaya dengan penghuni yang kokoh lagi beragama.
Komentar
Posting Komentar