Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Restu Semesta

Gambar
Senja menyibakku dalam lamunan, Menghantar rindu berbalut senyuman, Menuntunku menuju halal, Membasuh semu semai pelaminan, Meski ucap tak pernah menghantarkan kedamaian, Sorot matamu menjawab semua tanda tanya keraguan, puisi ini terhenti pada kata keraguan, dan terbengkalai pada hari-hari kelam menjamu airmata tak berkesudahan. pada istikhorokh penuntun jalan kebenaran, akan cinta yang mana berhak dipilihkan, atau memilih mesti semesta tak memilih. dan.. ternyata sudah dicukupkan. mungkin semesta punya rahasia, yang tak bisa di sibak oleh cahaya yang mana. juang sudah pada puncaknya.  mungkin bisa di bilang puisi ini tak bisa seluruhnya meluapkan isi hati penulis, namun denganberaninya di upload dengan materi yang masih mentah. namun ada sesuatuu yang mungkin saja bisa di bagi, lalu aku membaginya. selamat membaca.

Hujan

Gambar
Aku rindu, Hujan kala itu Dulu ia selalu hadir setiap kedip mata Membasahi bedak dan pipi yang merah Membuat sembab kedua kelopak mata Tersedak isak menyibak gelap Saat raga terpenjara Di antara jurang bahagia lagi nestapa Aku rindu, Hujan kala itu Kau pegang jemariku erat Seakan kau takut aku terjatuh dari sepatu jinjit dua senti Pelukan tak pernah kau lepas Atau mata yang selalu memandangku dalam tak berkedip penuh makna. Aku rindu, Hujan kala itu, Aku di punggungmu dalam laju, Sepeta motor bebek putih kau pacu Dalam satu angan satu tuju. Aku rindu, Hujan kala itu. Di bawah pohon beranting jarang Duduk bersila menunggu pelangi dari arah mana Baju basah tak pantas Namun tetap saja kau berusaha memeras. Apa kau tau? Aku rindu, Hujan kala itu. inginku robek sekat antara ruang dan waktu untuk menggenggam cerita bersamamu.

Terjalin

Gambar
Sayup rindu mesra menyapa di penghujung subuh Mendapati kerumunan mega menggunjing rasa penasaran Ada sepasang merpati bernyanyi tentang kerinduan Matahari menanti senja akan kabar yang tersiar Bahwa hati menjawab tanya oada diari tak terkodifikasi Ayunkan jemari tengadah ke muka Bisikkan do'a pengharapan memuja Katakan pada hati yang masih membara airmata Aku bahagia Menjalani restu ayah bunda ke masa.

Berdamai dengan Mimpi

Gambar
Ku tatap wajahnya kembali, Sang mentari yang menjadi duri Pembunuh berjuta harap Menjadi buruknya mimpi. Aku memasang wajah yang sama Saat pertemuan perdana bertahun silam Agar ia faham Kuat adalah aku Memaafkan namun tak melupa Sakit itu masih kerasa Kuat dan tak kan pernah binasa Perempuan dengan martabat di injak Melebur dalam airmata di pojokan khayal Namun kekuatan senyum biarlah yang mengikuti langkahnya, Pembalasan Tuhan lebih indah dari tangan kepal menggenggam.

Rongga Jemari

Gambar
Masih kosong Meski telah terisi Jemari pada rongga yang tak bertepi Atas jamuanmu tak kunjung ku genggam Maukah engkau Masih memeluk erat seperti dahulu Untuk menemai isak tangis kepedihan Mampukah aku Melupakanmu Setelah apa Namun kini menjadi, hampa. Yang terasa.

Jejak Kaki

Gambar
Kumandang subuh telah bergema Aku ingin kau tetap selalu ada Membersamai segala keakuanku, Meski kini langkahku jauh di atas perkenaanmu Kau tau aku hanya babu Dari air mata dan angan menjauh Tapi aku masih menjadi hamba Bertempat di sajadah mengeluh dan berkesah Mengabdi dan memuja di keharibaanNya. Ku tau langkahku terhenti sementara Itu, jika aku tetap di pelukanmu dan atas nama senyuman, Tapi aku berdiri bukan tanpa alasan Ada hal yang harus di pertahankan pula di tinggal Jejak kaki ku membawa segala harap dan doa Meninggalkan tempat ternyaman dan direstui segala kawan Aku berdiri di atas pendirian, Bukan atas omongan sebagian orang. Kecewa mu tak merisaukanku, Karenaku tak henti meminta restu Jalanku beginilah adanya. Banyak yang tak ku katakan atas nama samudra. Jika tak berkenan atas semua laku, Aku berhak mundur dari jalin dan asih. Terlampau jauh aku meninggalkan dunia Terlampau sering pisau tajammu menikam alur hidup Jangan pasang tampang bahagia di a...

Martabat Penjahat Hati

Gambar
Sudah bertahun kau pulang Meninggikan cita pada palung gelisah Sampai kapan kau jenuh Menusuk rindu di peluru relung Aku kini bertamu senja, Setelah mentari pergi sementara Katamu cinta hebat tanpa haluan Mengukir indah terbesit seruan Apa kini, Kau ucap selamat tinggal Penantian panjang berujung sesalan Lalu mu pergi tanpa permisi Menyobek hati menyibak arti Muru'ah sebagai alasan Olehmu memilih tinggalkan Kepadanya pengobat kesempurnaan Ku doa semoga engkau bahagia tanpa alasan Jangan sesal pada hasrat Martabat sampah kau kuatkan Diam tak berarti apa Ku menyesal memberi rasa Berlayar menuju dermaga Jika retak, perbaiki yang ada Sempurna tiada rupa Rentan rapuh menabrak karam nafsu angkara Ilustrasi gambar di ambil dari https://www.google.co.id/search?q=love+duri&client=ms-android-lenovo&prmd=ivn&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwjGjfziif7ZAhUHpY8KHY-lA38Q_AUIESgB&biw=360&bih=559#imgrc=kMPKMS6xWmkvKM:

Pulang

Gambar
Banyak abjad berjejeran ingin meronta durja meminta sua pada alamatnya, namun ternyata.. Air mata dengan dewasa menggantikan tanggungjawabnya. Dinding kokoh tebal pun terlalu tinggi unt di daki menjadi pertemuan paling inti. Usai dalam dekap Kekal dalam harap  Angan berangin pada ingin Sua meramu candu merestu pinta Layang tak bernada tak terbaca Jelas terungkap pada tabir mega Engkau masih ada Meski raga memintamu kembali ke singgasana.  Puncak rasa gemuruh luruh Jeruji membatas diri sejangkah kaki Demi bias cermin menjadi diri Bekal menimba satu windu di pati Muara paraduan Batang untuk berdikari  Semoga menjadi konklusi jeritan hati  Untuk sahabat semoga bertemu di dunia dan ukhrowi.  Beribu jalan horizontal bisa saja  ku tempuh,  Tapi aku memilih vertikal padaNya ku patuh  Optimis menjadi Tuan dalam kepastian Semangat meraih serta syukur akan selalu dihaturkan Ilustasi foto diambil dari http://leppardlaw.com/wp-content/uploa...

Kasmaran

Gambar
Menghamba tinta Memuja kata Mari duduk bersila Menuai cerita kita Pererat genggaman Dan mari melangkah bersama

Tanpa Daya

Gambar
Rengkuhan semangat redup seketika, Walau raga tetap bisa berjaya, Tp tetap tak dapat pungkiri rasa, Rapuh tanpa di duga, tak tau sebab mengapa, hanya dapat berkata, aku terjatuh dalam diam tanpa nada. Maaf, senyum mu pun tak dapat bangkitkan asa.

Merpati Putih

Gambar
Kasih, Aku memang tulang rapuh Mudah patah jika keras kau sentuh Akulah yang bisa melukaimu Jika aku dengan tegas dan bersikeras Atau mungkin saja sumber masalahmu Penganggu di setiap amarah dan manja Mampukah aku bersanding Denganmu sang pemilik tebing keburukanku Belati setiap laku kasarku Dimana kau temukan samudra sabar Jika aku banyak kurang Melukaimu menciderai kehormatan Denganku mencegah kebebasan Hadirku membawa banyak catatan hitam Bukankah harusnya aku, Tempatmu paraduan ketenangan Dekapanku melepas dahaga lelah Jemariku penghapus airmata dan keringat pekerjaan. Sesuap nasi hari demi hari Rupiah terkumpul kini dan nanti Sudah cukup membuktikan perjuangan Tak usah aku meminta pengertian, Banting tulangmu membuktikan banyak hal Bisa apa aku duduk bersantai di kursi goyang Menyandang status nyonya dari seorang pejuang Pundi lelah berbalas nada tak beraturan Di pundakmu beban keluarga dan masa depan Masihkah inginkah kau bersamaku Jika nanti ...

Sorot Mata Hampa

Gambar
Sekali lagi, aku menemukanmu di ujung jemariku menengadah, pada satu cahaya aku menyembah, atas sepasang ruh yang masih berteguh, meski raga dan tatap tak lagi membasuh, sekali lagi, Engkau memberi jawaban atas berjuta tanda tanya, tentang airmata membawa luka dan nestapa, atas jalan kaki terjal tak beralas penyangga, namun harap masih mengalir bersama dahaga. orang menyebutnya rindu, sebagian berucap candu, namun aku berkata pilu atas semua laku jalin ikat erat terbatin, ego semakin meronta bersua, perantara demi apa aku meminta, syukur atas nikmat tiada tara aku pemujamu di setiap kata dan sorot mata hampa.  Ilustrasi foto diambil dari : http://www.visitapenasco.com.mx/llorar-es-bueno-para-nuestra-salud/

Mata Pena

Gambar
Derap kaki ku semakin lemah Meredup lalu tersungkur Dalam pembaringan di sepertiga malam Menangis dalam pelukan sajadah tergelar Untaian kalam Illahiyah tergumam Dari lisan tanpa dosa dalam sujud dan pinta Istiqomahkan gerak mengabdi pencipta Lisanku kelu, tanpa kata Gemuruh bagai petir menyambar mimpi manis Jejaring berduri berisi hati tak berpenghuni Diam dan sendiri Aku masih saja memikirkanmu, Menikmati sajak atau pemikiranmu yang sendu Kata demi kata tajam menyilaukan Apa dengan cara yang sama Kau mencoba berbicara Dengan hati yang mungkin masih tertinggal Lepas, lepaskanlah Tapi ruh kita seolah masih bernyanyian Erat semakin erat Ada jawaban lebih indah mengambang Tentang bersatunya hati tanpa kepastian Masih menyatu, selalu menyatu Tanpa kata terucap dan pena berisyarat Ikatan yang kuat, di bathiniyah kalbu paling dalam Berlayarlah menuju samudra, Masih di pembaringan ...

Pati Bumi Mina Tani

Gambar
Pati Negeri elok nan berseri memayungi tiap jerih Pemilik sejuta cerita tentang masyarakat berbudi Ujung tombak kebahagiaan kemanapun kaki melangkah pergi Menuju titik pemilik adipura kebanggaan setiap pribadi Bumi indah dipayung mentari Bersinar terang seindah simphoni Kota sejuta ulama dan santri Muara ilmu bersarung dan peci Ribuan santri mengaji dari penjuru negeri Layar berkibar kapal melalang Pejuang kail dan cangkrang mengembara mengejar fajar Menafkahi anak istri suatu keharusan Dengan jiwa pantang untuk rupiah yang halal Lumbung padi mata pencaharian petani Subur asri di pelataran semilir bersemi Negeri sejuta ketela dan batik bakaran pujaan Jayalah selalu kini dan nanti Geguyub rukun masyarakat makmur Gage go dolan moro omahku Patiku patiem ijo royo-royo Golek sego gandul tali pengatur jiwo

Menggapai Semesta

Gambar
Ada yang tersedu dalam isakkan tangis Menatap langit penuh kusam dan abu-abu Menanti hari berubah tak pasti Mata air jernih dari mata sang hamba Mengalir tak tersisa Hanya suara tanpa rupa Ia menangis siang dan malam Menanti fajar menunggu mega senja Gurat sudah nampak, terbujur dalam persinggahan Masih tentang rasa tak berbalas Mengharap doa semesta memberi restu Bergerak tanpa suara, Berdiri tegap tak berpijak Maukah engkau masih memegang jemariku Dan berkawan denganku Dunia sesurga ku, Mesti memang bersanding itu angan yang tak nyata, Setidaknya pujaan masih di hati dan satu dunia yang sama.

Lembayung Senja

Gambar
Berselimut awan kelabu menyapa Bahagia cerita dalam diam meski menyiksa Bungkam kata kita ukir kenang Seribu cerita, cinta jadi asa. Bukan ego, munafik atau fana. Kita genggam hati berpeluk percaya. Badai itu, jadikan kita kuat. Tanpa airmata, bahkan lelah dapat menyekanya. Dengarkan suara hati, percaya cinta sejati. Piramidpun tak ingin sendiri. Ia menunggumu untuk tegap dan berdiri. Jika semua harap bukan menjadi angan Reruntuhan gelisah dibangun kembali dalam do'a Lembayung senja menunggumu di singgasana istana

Sebuah Definisi

Gambar
Aku tak ingin mendefinisikan satu hal Karena menjadi bagian di dalamnya tak pernah aku idamkan Biarlah berjalan sesuai arusnya Atau berhenti pada sudut-sudut ego Kala bulat menjadi khayal Pula kotak menjadi kenyataan Tentang tangan yang tak ingin bercerai Namun keyakinan telah terberai Karena angan tersapu angin Maka Tinggal atau berlari Pilihlah sesuai nurani Berbekal resiko di punggung berpijak Sayup dalam asa Teriring airmata Kepingan senyum mentari mulai pipih Sontak Mendung durja Mulai tersungkur lemah, Dan .. Entah.

Kamu

Gambar
Ijinkan ku menulis pilu Untuk segala rasa yang candu Tentang keabadian abu-abu Mengalir dalam ukiran tak berbentuk Di batas ku mengadu Ku pasrahkan pada Rob-ku Tentang halal dan restu Semoga angan ku besertamu Bersatu indah mengukir syahdu Dan kamu, menjadi kawanku Dunia pula akhiratku.

El-Faqir

Gambar
Gemerlap nikmat meliputi jiwa Dalam sanubari insan limpah dosa Pelipur lara taburan canda Hiasi hari nan cercah asa Dekapan syurga khatulistiwa Bersimluh dalam rintihan doa Bara lara selimuti aral lintang Menghadang tiap percik cahaya Apalah daya raga menyapa Tanpa Pencipta dalam dekapan Selama jiwa masih memeluk mesra Gejolak harap jangan pernah pudar Dalam diri hamba bersimpuh tasbih  Dalam mencari ridho semesta Illahi

Terimakasih Senja

Gambar
Segala penjuru, Di ufuk barat menyapa,  Ada keindahan berupaya menghilang,  Tanpa sadar membawa ruh dan airmata bersamaan,  Wahai oh wahai,  Jalan ridho menujumu atau berpaling,  Semesta berkabung atas keterjatuhan,  Bangkitlah memijar,  Lentara terang di langit jingga terpatri dalam jiwa,  Mengukir di hati pemilik rasa.  Kornea coklat yang mulai menunduk lemas,  Tersirami beningnya air jatuh ke tanah,  Mengembaralah dikau ke ujung dunia,  Saat cita kau dekap, cinta akan mendekat.  Terbanglah menuju langit ke tujuh,  Perbedaan tempat bukan alasan dirimu jatuh,  Tegar menjadi kuat lalu hebat Bukankah damba selalu memuja Maaf berpuluh juta maaf Masih teerbaik dan terindah,  Untuk senja,  Oyikieya.