Berdamai dengan Mimpi
Ku tatap wajahnya kembali,
Sang mentari yang menjadi duri
Pembunuh berjuta harap
Menjadi buruknya mimpi.
Aku memasang wajah yang sama
Saat pertemuan perdana bertahun silam
Agar ia faham
Kuat adalah aku
Memaafkan namun tak melupa
Sakit itu masih kerasa
Kuat dan tak kan pernah binasa
Perempuan dengan martabat di injak
Melebur dalam airmata di pojokan khayal
Namun kekuatan senyum biarlah yang mengikuti langkahnya,
Pembalasan Tuhan lebih indah dari tangan kepal menggenggam.
Komentar
Posting Komentar