Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2017

Kaki Berpasang Tiang

Gambar
Aku memuja hujan jatuhnya bertaburan Memberi rindu hinggapi keraguan Menuntun pagi dalam gemerisik tangisan Seperti angin yang tak pernah enggan datang Dirimu hadir selalu dalam lamunan Bahkan mimpi pun semu dalam ikatan Meraba parasmu dalam jawaban Pernahkah kau pula rasakan Hati iba melihat senyum yang tumbang Risau pulakah penantian yang tak juga bermuara Kala pandang masih saja pudar buram Meski sesekali jelas dalam tatap Tetap istiqomah dalam tahap Sesabar bintang menemani angkasa Akan ku lakukan seperti yang engkau pinta Beribu teling dan air mata ikut merasakan getir manis cerita Engkau masih tertunduk malu memendam semua Memang bukan ingin pula angan Haq hanya pasrah ikhlas menerima Segala ketetapan takdir sang Pencipta Rasa.

Juang Pemerdeka Tujuh Puluh Dua

Gambar
Tulang punggung yang direbahkan di atas bumi Membersamai keringat jatuh menyirami tanah Di rumah kayu rapuh dengan satu penyangga Terdengar siup suara pada tiap jam yang sama Semakin kencang ketika waktu mulai melangkah bertambah Meminta suapan nasi penghilang amarah Kedua binar mata karena tangisan perut kosong itu Mencoba berbicara dengan satu irama Saya tidak makan sedari senja Hingga saluna bertemu safana meminta sesuap airmata Dengan katup mata yang penuh gurat Tangan yang tak lagi tegap Kaki yang terdiri dari tongkat sebagai perangkat Memeluk dinding ratapan berharap cinta belas kasih Menopang rumah agar tetap kokoh meski tanpa pamrih Bersama hujan, matahari bermusim durja Veteran kemerdekaan yang masih mendekap senyuman dunia Masih saja lumpuh membiru dalam kenangan tujuh puluh dua tahun silam Sejak merah keberanian dan putih kesucian telah berkibar Dengan darah berkucuran tak terindahkan Tunjangan tak seberapa dengan jasa mengusir penjajahan Masih jua berju...

Membunuh Hampa

Gambar
Tanah terhampar di hati perempuan patah hati, Menipu dengan jutaan senyum menganggun lembut, Dia berkata pada kaca ada bahagia yang telah terenggut, Telah meninggalkan jutaan keping pilu menguras airmata, Menembus dinding-dinding sabar dan ikhlas membiru, Luka, jangan lagi tanya. Pergi, sudah ke beberapa . Kembali, entah kali kesekian. Gurat sendu menipu jemari rasa mengundang durja, Membongkar benteng keakuan dan keegoisan, Mengemis dalam tiap detik sepi, Meminta satu kata penenang, Berakhir pada pagi membisik bumi, Bahwa kaki tak lagi ingin melangkah pasti, Menjejali duri meneteskan darah di pipi, Buang semua acuh dan perih, Sepiku ingin engkau disisi, Jangan lagi pergi tanpa permisi Jangan lagi tinggal untuk menguji, Perempuan patah hati butuh penyembuh luka bukan pembuat derita, lagi.

Hempas

Gambar
Patah Berkeping, Runyam terjalin, Asa menyublin, Silau bersiul, Bibir merekah, Hati merengkuh, Badan terkapar, Mata kosong pandang, Desir pasir menghempas, Tanpa daya makna, Aku, bukan siapa-siapa.

Peluk Hamba

Gambar
Yang disana, Lebih indah juga hijau, Ranum harum semerbak pucuk kejayaan, Di beri di hampiri pula dipuja tinggi, Selalu jaya mencakar langit tujuh keistimewaan duniawi, Kata andai menjadi angan pribadi memandang, Adakah celah mampu masuk kedalam dunia rumput tetangga katanya, Yang disini, Berjuang sekuat tenaga, Perih tak terhingga, Jatuh bangun membangun dengan pondasi utuh, Namun tetap saja sama saja. Padahal, jalur sudah di tetapkan, Bahagia sudah digariskan, Jangan lagi ada caci apalagi iri, Tuhan memberi sesuai porsi, Bagaimana engkau menempatkan dan menjadi hamba berbudi Menjadikan kewajiban di atas segalanya, Menjaukan larangan tanpa alasan hawa, Jadikan kaca sebagai cermin diri, Pandang diri sebagai obyek juga pelaku, Biarkan mereka dengan segala rizki, Engkau dengan usaha jerih payah tanpa terikat ilusi. Allah maha Adil, Rohman Rohimnya akan terus mengalir, Untuk hamba yang mendekat, peluk erat setiap amanat.

Dekap Illahi

Gambar
Rona rasa membelah jiwa ekspresikan apa, Seri muram candu gulana wajah tanpa pucat basi membiru nada, Airmata ambigu menafsirkan kata Dekapan haru meneduhkan kaca, Bak sepatu satu paket rasa satu paket cerita, Luapan hati mencari obat menghibur diri, Basuhi aku nasehati aku sadar syukur,  Untai dzikir mencoba mengiringi setiap lanngkah kaki,  Kedip mata  menghamba tenang dan memeluk damai, Kebahagiaan mana lagi yang engkau masih cari, Sesuap gemerlap mana lagi yang masih engkau tempuh, Buang semua ingin dan enggan, Sahabat sejati adalah kematian, Kala nikmat nafas diputus martabat tak berarti kedudukan tak terperi, Kala nama tinggal nada tak berarti, Tinggalkan  atsar  saat  asr . Sepanjang masa meninggalkan cerita, Jangan menakdirkan apa yang belum ada, Jalani saja apa yang di dekap, Ikuti saja alur skenario Sang Pemilik Cerita, Patuh abdi  ngabdi  kepada Gusti Jangan lagi risau, sepi, dan mencaci, Semesta bukan hanya sekotak ilusi  dz...

سيرة

Gambar
Mengikuti alur Di luar lajur Unt membaur Pribadi yang bersaur Apa guna utuh Jika jarak harus ditempuh Apa guna senyuman Jika obyek tidak memandang Membawa api Pada sanubari Membawa luka Pada airmata Kertas utuh Masih rapi Tanpa tersentuh Sampai tiba waktu untuk Bersatu ridho halal dan restu Peluk genggam rangkul penuh Ikat erat senyum semangat Jalan takkan terjal bersama yang kuat Jalan berliku untuk yang selalu menggerutu مع السلامة بعون الله

Asing

Gambar
Berjalan berdua Tanpa usaha bibir terbuka Menuruti jangka kaki seirama Menjangkau jemari mencoba mengabdi Masih dengan sepi tanpa nada Tertunduk ragu seribu bahasa Kokoh tak tergoyah mengacu haluan Masa depan seribu isyarat makna Mengayuh mengacu merayu memilu Surau seram wajahmu muram Sergap serbu seribu buram Tanda tanya aku mengadu Tanpa kata engkau menatapku Sorot mata isyarat binar kepastian Bibir kembang pertanda bahagia tak terhingga Kedamaian ada, dalam panggung punggung pemula pemuda Meski kita, Masih asing tak berbicara tak bertatap muka.