Juang Pemerdeka Tujuh Puluh Dua
Tulang punggung yang direbahkan di atas bumi
Membersamai keringat jatuh menyirami tanah
Di rumah kayu rapuh dengan satu penyangga
Terdengar siup suara pada tiap jam yang sama
Semakin kencang ketika waktu mulai melangkah bertambah
Meminta suapan nasi penghilang amarah
Kedua binar mata karena tangisan perut kosong itu
Mencoba berbicara dengan satu irama
Saya tidak makan sedari senja
Hingga saluna bertemu safana meminta sesuap airmata
Dengan katup mata yang penuh gurat
Tangan yang tak lagi tegap
Kaki yang terdiri dari tongkat sebagai perangkat
Memeluk dinding ratapan berharap cinta belas kasih
Menopang rumah agar tetap kokoh meski tanpa pamrih
Bersama hujan, matahari bermusim durja
Veteran kemerdekaan yang masih mendekap senyuman dunia
Masih saja lumpuh membiru dalam kenangan tujuh puluh dua tahun silam
Sejak merah keberanian dan putih kesucian telah berkibar
Dengan darah berkucuran tak terindahkan
Tunjangan tak seberapa dengan jasa mengusir penjajahan
Masih jua berjuang hidup serba kekurangan
Dimana anak muda pengkbral kobar empati pemberantas kesengsaraan
Dengan gadget di tangan kedua kaki di meja perut nyaman kenyang nyaman kedudukan
Inilah perjuangan, pemuda penanggung segala beban
Pembawa api semangat perjuangan
Namun usang di medan perang
Dengan modal hanya omongan tanpa makna seribu kata.
Komentar
Posting Komentar