Postingan

Muara Ilmu

Gambar
Adzan subuh berkumandang  Mengalun teduh di pangkuan Bantal dan guling segera ditinggalkan Para pencari ilmu dan ridho semesta Sajadah dan mukena Sarung dan kopyah  Kitab kuning tanpa harokat  Setia menemani peluh dan keingintahuan Nyamuk dan kantuk tak menjadi penghadang  Lapar dahaga mereka rasakan Pantang pulang sebelum menang Melawan ketidaktahuan Meski Dunia sedang mencari pemenang menjilat muka demi jabatan Tanpa ilmu apakah bisa  Meninggalkan adab apakah mampu  Pena di kanan kertas dikiri  Dari padang hingga petang  Kembali subuh datang Engkau masih setia dengan buku dan tulisan Oh apa kabar kebodohan? Semoga engkau meninggalkanku yang tengah berteguh  Pada belajar dan belajar

Restu Semesta

Gambar
Senja menyibakku dalam lamunan, Menghantar rindu berbalut senyuman, Menuntunku menuju halal, Membasuh semu semai pelaminan, Meski ucap tak pernah menghantarkan kedamaian, Sorot matamu menjawab semua tanda tanya keraguan, puisi ini terhenti pada kata keraguan, dan terbengkalai pada hari-hari kelam menjamu airmata tak berkesudahan. pada istikhorokh penuntun jalan kebenaran, akan cinta yang mana berhak dipilihkan, atau memilih mesti semesta tak memilih. dan.. ternyata sudah dicukupkan. mungkin semesta punya rahasia, yang tak bisa di sibak oleh cahaya yang mana. juang sudah pada puncaknya.  mungkin bisa di bilang puisi ini tak bisa seluruhnya meluapkan isi hati penulis, namun denganberaninya di upload dengan materi yang masih mentah. namun ada sesuatuu yang mungkin saja bisa di bagi, lalu aku membaginya. selamat membaca.

Hujan

Gambar
Aku rindu, Hujan kala itu Dulu ia selalu hadir setiap kedip mata Membasahi bedak dan pipi yang merah Membuat sembab kedua kelopak mata Tersedak isak menyibak gelap Saat raga terpenjara Di antara jurang bahagia lagi nestapa Aku rindu, Hujan kala itu Kau pegang jemariku erat Seakan kau takut aku terjatuh dari sepatu jinjit dua senti Pelukan tak pernah kau lepas Atau mata yang selalu memandangku dalam tak berkedip penuh makna. Aku rindu, Hujan kala itu, Aku di punggungmu dalam laju, Sepeta motor bebek putih kau pacu Dalam satu angan satu tuju. Aku rindu, Hujan kala itu. Di bawah pohon beranting jarang Duduk bersila menunggu pelangi dari arah mana Baju basah tak pantas Namun tetap saja kau berusaha memeras. Apa kau tau? Aku rindu, Hujan kala itu. inginku robek sekat antara ruang dan waktu untuk menggenggam cerita bersamamu.

Terjalin

Gambar
Sayup rindu mesra menyapa di penghujung subuh Mendapati kerumunan mega menggunjing rasa penasaran Ada sepasang merpati bernyanyi tentang kerinduan Matahari menanti senja akan kabar yang tersiar Bahwa hati menjawab tanya oada diari tak terkodifikasi Ayunkan jemari tengadah ke muka Bisikkan do'a pengharapan memuja Katakan pada hati yang masih membara airmata Aku bahagia Menjalani restu ayah bunda ke masa.

Berdamai dengan Mimpi

Gambar
Ku tatap wajahnya kembali, Sang mentari yang menjadi duri Pembunuh berjuta harap Menjadi buruknya mimpi. Aku memasang wajah yang sama Saat pertemuan perdana bertahun silam Agar ia faham Kuat adalah aku Memaafkan namun tak melupa Sakit itu masih kerasa Kuat dan tak kan pernah binasa Perempuan dengan martabat di injak Melebur dalam airmata di pojokan khayal Namun kekuatan senyum biarlah yang mengikuti langkahnya, Pembalasan Tuhan lebih indah dari tangan kepal menggenggam.

Rongga Jemari

Gambar
Masih kosong Meski telah terisi Jemari pada rongga yang tak bertepi Atas jamuanmu tak kunjung ku genggam Maukah engkau Masih memeluk erat seperti dahulu Untuk menemai isak tangis kepedihan Mampukah aku Melupakanmu Setelah apa Namun kini menjadi, hampa. Yang terasa.

Jejak Kaki

Gambar
Kumandang subuh telah bergema Aku ingin kau tetap selalu ada Membersamai segala keakuanku, Meski kini langkahku jauh di atas perkenaanmu Kau tau aku hanya babu Dari air mata dan angan menjauh Tapi aku masih menjadi hamba Bertempat di sajadah mengeluh dan berkesah Mengabdi dan memuja di keharibaanNya. Ku tau langkahku terhenti sementara Itu, jika aku tetap di pelukanmu dan atas nama senyuman, Tapi aku berdiri bukan tanpa alasan Ada hal yang harus di pertahankan pula di tinggal Jejak kaki ku membawa segala harap dan doa Meninggalkan tempat ternyaman dan direstui segala kawan Aku berdiri di atas pendirian, Bukan atas omongan sebagian orang. Kecewa mu tak merisaukanku, Karenaku tak henti meminta restu Jalanku beginilah adanya. Banyak yang tak ku katakan atas nama samudra. Jika tak berkenan atas semua laku, Aku berhak mundur dari jalin dan asih. Terlampau jauh aku meninggalkan dunia Terlampau sering pisau tajammu menikam alur hidup Jangan pasang tampang bahagia di a...