Restu Semesta

Senja menyibakku dalam lamunan,
Menghantar rindu berbalut senyuman,
Menuntunku menuju halal,
Membasuh semu semai pelaminan,
Meski ucap tak pernah menghantarkan kedamaian,
Sorot matamu menjawab semua tanda tanya keraguan,



puisi ini terhenti pada kata keraguan, dan terbengkalai pada hari-hari kelam menjamu airmata tak berkesudahan. pada istikhorokh penuntun jalan kebenaran, akan cinta yang mana berhak dipilihkan, atau memilih mesti semesta tak memilih. dan.. ternyata sudah dicukupkan. mungkin semesta punya rahasia, yang tak bisa di sibak oleh cahaya yang mana. juang sudah pada puncaknya. 
mungkin bisa di bilang puisi ini tak bisa seluruhnya meluapkan isi hati penulis, namun denganberaninya di upload dengan materi yang masih mentah. namun ada sesuatuu yang mungkin saja bisa di bagi, lalu aku membaginya. selamat membaca.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sang Mujahid

Selamat Ulang Tahun Pujaan

Simpuh, Tuan