Dekap Illahi
Rona rasa membelah jiwa ekspresikan apa,
Seri muram candu gulana wajah tanpa pucat basi membiru nada,
Airmata ambigu menafsirkan kata
Dekapan haru meneduhkan kaca,
Bak sepatu satu paket rasa satu paket cerita,
Luapan hati mencari obat menghibur diri,
Basuhi aku nasehati aku sadar syukur,
Seri muram candu gulana wajah tanpa pucat basi membiru nada,
Airmata ambigu menafsirkan kata
Dekapan haru meneduhkan kaca,
Bak sepatu satu paket rasa satu paket cerita,
Luapan hati mencari obat menghibur diri,
Basuhi aku nasehati aku sadar syukur,
Untai dzikir mencoba mengiringi setiap lanngkah kaki,
Kedip mata menghamba tenang dan memeluk damai,
Kebahagiaan mana lagi yang engkau masih cari,
Sesuap gemerlap mana lagi yang masih engkau tempuh,
Buang semua ingin dan enggan,
Sahabat sejati adalah kematian,
Kala nikmat nafas diputus martabat tak berarti kedudukan tak terperi,
Kala nama tinggal nada tak berarti,
Tinggalkan atsar saat asr.
Sepanjang masa meninggalkan cerita,
Jangan menakdirkan apa yang belum ada,
Jalani saja apa yang di dekap,
Ikuti saja alur skenario Sang Pemilik Cerita,
Patuh abdi ngabdi kepada Gusti
Jangan lagi risau, sepi, dan mencaci,
Semesta bukan hanya sekotak ilusi dzon para penghuni,
Akan tetap berakhir indah semua cerita karena Tuhan sudah berjanji.
Kebahagiaan mana lagi yang engkau masih cari,
Sesuap gemerlap mana lagi yang masih engkau tempuh,
Buang semua ingin dan enggan,
Sahabat sejati adalah kematian,
Kala nikmat nafas diputus martabat tak berarti kedudukan tak terperi,
Kala nama tinggal nada tak berarti,
Tinggalkan atsar saat asr.
Sepanjang masa meninggalkan cerita,
Jangan menakdirkan apa yang belum ada,
Jalani saja apa yang di dekap,
Ikuti saja alur skenario Sang Pemilik Cerita,
Patuh abdi ngabdi kepada Gusti
Jangan lagi risau, sepi, dan mencaci,
Semesta bukan hanya sekotak ilusi dzon para penghuni,
Akan tetap berakhir indah semua cerita karena Tuhan sudah berjanji.

Komentar
Posting Komentar