Menggapai Semesta
Ada yang tersedu dalam isakkan tangis
Menatap langit penuh kusam dan abu-abu
Menanti hari berubah tak pasti
Mata air jernih dari mata sang hamba
Mengalir tak tersisa
Hanya suara tanpa rupa
Ia menangis siang dan malam
Menanti fajar menunggu mega senja
Gurat sudah nampak, terbujur dalam persinggahan
Masih tentang rasa tak berbalas
Mengharap doa semesta memberi restu
Bergerak tanpa suara,
Berdiri tegap tak berpijak
Maukah engkau masih memegang jemariku
Dan berkawan denganku
Dunia sesurga ku,
Mesti memang bersanding itu angan yang tak nyata,
Setidaknya pujaan masih di hati dan satu dunia yang sama.

Komentar
Posting Komentar