Mata Pena
Derap kaki ku semakin lemah
Meredup lalu tersungkur
Dalam pembaringan di sepertiga malam
Menangis dalam pelukan sajadah tergelar
Untaian kalam Illahiyah tergumam
Dari lisan tanpa dosa dalam sujud dan pinta
Istiqomahkan gerak mengabdi pencipta
Lisanku kelu, tanpa kata
Gemuruh bagai petir menyambar mimpi manis
Jejaring berduri berisi hati tak berpenghuni
Diam dan sendiri
Aku masih saja memikirkanmu,
Menikmati sajak atau pemikiranmu yang sendu
Kata demi kata tajam menyilaukan
Apa dengan cara yang sama
Kau mencoba berbicara
Dengan hati yang mungkin masih tertinggal
Lepas, lepaskanlah
Tapi ruh kita seolah masih bernyanyian
Erat semakin erat
Ada jawaban lebih indah mengambang
Tentang bersatunya hati tanpa kepastian
Masih menyatu, selalu menyatu
Tanpa kata terucap dan pena berisyarat
Ikatan yang kuat, di bathiniyah kalbu paling dalam
Berlayarlah menuju samudra,
Masih di pembaringan dengan airmata,
Aku akan bergema.
Semesta yang akan tahu, tak usah kau risau.
Doa selalu terpanjat tanpa kau pinta
Hati masih berharap pada sang kuasa.
Aku hanya ingin menyapa,
Apa kabar kau disana?

Komentar
Posting Komentar