Sorak sorai dari pojokan jalanan, Membuat riuh kota yang penuh kesederhanaan, Anak kecil tanpa bapa masih mampu tersenyum tanpa guratan senja Setelah kebahagiaannya terenggut di ufuk saluna. Menjadi sebagian dari para pejuang negeri, Memerangi ideologi, keserakahan, dan keangkuhan penguasa kini, Mereka lalu meminta asi, kesurga yang mereka huni, Merengek kesana kemari, Seribu bahasa dengan ejaan tangisan yang mampu kami tafsirkan, "ibu, anakmu lapar, ibu.. " Menghampiri sesosok jasad yang telah kaku, Karena benda yang teramat keji merenggut nyawa, Lautan merah kental menghiasi pusara ibunda, Namun, anakmu masih ingin mendekapmu, Merangkak dengan kaki dan tangan, bermuka kusam dengan seribu makna, tanpa ejaan kata yang dimengerti manusia, "jangan pergi tanpa aku, ibundaa" Namun engkau tetap enggan, Membawaku dalam dekapan, Kami hanya mampu berlinang kaca, Dan bisu seribu makna, Selamat jalan mujahid ideologi kaum mayoritas, Kami selalu mendoakan ...
Komentar
Posting Komentar