Lelayu Senja
Daun itu telah jatuh,
jauh dari pohonnya,
di terpa terik mentari
hujan hujam petir.
Sekarang ia telah rapuh dalam sepi,
mencari singgasana macam istana abadi,
tapi ia sadar... Ia masih merangkak sendiri,
berlumur lumpur terhalang bebatuan menghampiri.
Belum lagi injakan kaki anak manusia, tanpa dosa di atas nestapa beserta tawa khasnya mengiringi
rusaknya kerangka menjadi fana.
Lalu ia mulai di kenang sebagai nama,
sedikit cerita, banyak buruknya.

Komentar
Posting Komentar