Njenengan

Bolehkah kata keindahan ananda tuliskan dengan deretan abjad mesra ini.
Bahwa muara itu terpancar tak jauh dari tatap mata menyimpan ribuan asa dan rasa,
Saat senja bertemu senja bertamu dalam keabadian rasa memeluk mesra jiwa. Saat ananda mengikuti langkah kaki ringanmu mengabdi menjadi makmum pondasi agamamu.
Maka, Jadikan aku pengikut setia mu dan jangan lagi menoleh kemanapun engkau mau,
Agar semesta pun tahu ada Njenengan di setiap jengkal kelopak mata mengatup pasangan menggetar jiwa.
Meskipun, Tetap saja keindahan yang ada di hati tak bisa tergambar gampang setara dengan apa yang ada di hati.
Tapi, mampukah ananda memendam sendiri dalam detik jarum jam menggema,
Bersama dengan kerinduan yang kian bersemi,
Adalah Njenengan yang selalu menghiasi.
Entah dengan ukiran apa jangan tanya ananda tersenyum di setiap sudut jam berbunyi.
Ada Njenengan yang tak pernah lelah merestui,
Setiap langkah menuju singgasana surga menggenggam jemari mahligai halal dalam silaturrahim.
Masihkah Njenengan orang yang menanti.
Ataukah Njenengan yang menjemput kesendirianku bersama kumbang-kumbang bernyanyi.
Adalah Njenengan tempat mengadu pusaka kesedihan yang menghantui.
Pun Njenengan yang menghempas pergi tanpa jarak dan waktu meminta restu berpisah sepi.
Pula Njenengan rindu bertamu bertemu restu berseru jangan pergi.
Genggam tangan ananda ikatkan hati semoga semesta meridhoi.
Bersama Njenengan untuk setiap hari sampai ajal menghampiri.
Meski detik merasakan iri sampai kini masih sendiri,
Pula jarak yang terlalu tega menghempas semakin mendekat pergi,
Biarkan rindu yang mendekatkan,
Bayangan yang mendoakan,
Dan tengadah tangan yang berbicara,
Untuk doa yang telah teramini.
Salam wahai kakanda.
Adinda menunggu dari muara sampai pusara.
Maka, ijinkanlah..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sang Mujahid

Selamat Ulang Tahun Pujaan

Simpuh, Tuan