Abdi

Aku melangkah dengan kaki terburu-buru
Tanpa beralas pelindung tanpa berpayung teduh
Kebahagiaanku ketika semua ke-aku-anku terpenuhi
Siapa yang menghalanginya adalah musuhku
Perjalanan panjang ini ku lalui
Dengan tangan tanpa ada jemari yang mendekap di sela-sela rongganya
Aku masih tegap saja, itu tanda aku masih kuat
Puluhan lubang di jalan tak henti-hentinya  datang
Iya, aku terjatuh dan bangun lagi entah keberapa kali
Aku masih ingin berjalan
Meski lara seorang pahlawan beriringan dengan tangis sang pemilik surga dunia
Ridho yang masih belum ku dekap,
Aku masih berjalan, bukan berlari bukan tegap berdiri
Sampai pada darah yang keluar, badan yang remuk, serta nafas yang telah kempis
Hanya air mata surga sebagai pintu hidayah,
Yang menyadarkan aku dari dosa sejarah
Langkahku terhenti, namun aku masih berjalan,
Dengan lajur yang menoleh ke kanan kini
Aku kini telah berhenti,
Pada sebuah tempat dimana hanya ada di dalam surga yang bernama pesantren
Ku bukatkan tekad menjadi abdi untuk negeriku kini
Dan masih tetap akan berjalan demi tujuan yang baru,
Cahaya ridho ayah bunda sebagai bekal senyumku nanti
Semoga langkahku kini, mengalir pada kebahagiaan yang hakiki

*sebuah kisah inspiratif dari sang mahaguru kehidupan penulis

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sang Mujahid

Selamat Ulang Tahun Pujaan

Simpuh, Tuan